Story
Harga Minyak Melonjak di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran, Goldman Sachs Peringatkan Potensi Tembus $120

Summary
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 3% karena eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran di Teluk Persia, dengan minyak Brent melampaui $101 per barel. Goldman Sachs memperingatkan risiko harga dapat mencapai $120 jika gangguan pasokan terus berlanjut.
Harga minyak mentah melonjak tajam lebih dari 3% pada hari Rabu (10/9) setelah eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran di Teluk Persia. Minyak mentah Brent kembali diperdagangkan di atas $100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei, dipicu oleh kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Eskalasi Militer Memicu Kekhawatiran Pasokan
Pemicu kenaikan harga adalah konfirmasi dari militer AS pada hari Selasa bahwa pihaknya telah menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah Iran. Menurut Komando Pusat AS, tindakan ini merupakan balasan atas upaya serangan Iran terhadap kapal perang AS sebelumnya, yang berhasil dihindari tanpa menimbulkan korban jiwa.
Insiden ini menandai baku tembak langsung pertama antara kedua negara dalam sebulan terakhir. Eskalasi terjadi setelah periode di mana AS lebih fokus pada tekanan ekonomi, sementara Iran dilaporkan terus melakukan serangan terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz.
Reaksi Pasar dan Peringatan dari Goldman Sachs
Pada penutupan perdagangan, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 3,4% menjadi $101,21 per barel, level penutupan tertinggi sejak 22 Mei. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 3,3% ke level $96,05 per barel.
AdBank investasi Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak berisiko menembus $120 per barel. Daan Struyven, Co-Head Riset Komoditas Global di Goldman Sachs, mengatakan kepada CNBC bahwa peningkatan serangan terhadap kapal tanker secara signifikan menaikkan probabilitas skenario kenaikan harga yang tajam.
Meskipun skenario dasar Goldman Sachs masih memproyeksikan pemulihan bertahap ekspor dari Teluk Persia melalui adaptasi rute, Struyven mencatat bahwa eskalasi terbaru membuat "skenario *bullish*"—di mana ekspor gagal pulih akibat serangan berkelanjutan—menjadi lebih mungkin terjadi dalam beberapa bulan mendatang.
Dampak Terasa hingga ke Konsumen
Kenaikan harga minyak mentah telah merambat ke pasar konsumen, terutama di Amerika Serikat. Harga bensin dilaporkan mencapai rekor tertinggi untuk periode liburan Hari Buruh, yaitu $4,15 per galon.
Selain itu, Patrick De Haan, kepala analisis perminyakan di GasBuddy, memperingatkan bahwa harga solar di AS diperkirakan akan melampaui $6 per galon untuk pertama kalinya dalam beberapa hari mendatang. Hal ini berpotensi menambah tekanan inflasi yang lebih luas pada perekonomian.