Story
Saham Asia Melemah Akibat Lonjakan Minyak, Investor Nantikan Data Inflasi AS

Bursa saham di Asia melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa, tertekan oleh lonjakan harga minyak yang mendekati level tertinggi dalam sebulan terakhir. Kenaikan harga komoditas ini menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan membebani prospek suku bunga global, sementara investor bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi utama dari Amerika Serikat.
Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi
Harga minyak mentah memperpanjang kenaikan tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk menerapkan kembali blokade terhadap pengiriman Iran dan mengenakan biaya 20% pada kargo yang melewati Selat Hormuz. Menurut laporan Investing.com, ketegangan yang meningkat akibat serangan militer AS yang baru di Iran juga menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak mentah global.
Kondisi ini memicu kembali kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan di level yang tinggi. Akibatnya, para pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter dan justru meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan menaikkan suku bunga pada bulan Juli, menyusul komentar bernada *hawkish* dari Gubernur The Fed Christopher Waller.
Pergerakan Pasar Regional
Sentimen negatif ini tercermin pada pergerakan mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik. Kontrak berjangka saham AS juga bergerak lebih rendah dalam perdagangan Asia, melanjutkan pelemahan tajam di Wall Street pada sesi sebelumnya.
Ad- Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 2,5%, memperpanjang kerugian tajam dari sesi sebelumnya akibat volatilitas saham semikonduktor.
- Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 1%, meskipun indeks TOPIX yang lebih luas diperdagangkan datar.
- Indeks S&P/ASX 200 Australia dan Straits Times Index Singapura masing-masing turun 0,5% dan 1%.
- Pasar Tiongkok dan Hong Kong menunjukkan pergerakan yang lebih tenang. Shanghai Composite bergerak datar, sementara CSI 300 naik tipis 0,5%. Hal ini terjadi setelah data menunjukkan ekspor dan impor Tiongkok pada bulan Juni tumbuh lebih cepat dari perkiraan.
Fokus Investor Tertuju pada Data Inflasi AS
Kini, fokus utama investor tertuju pada rilis data inflasi harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan pada hari Selasa waktu setempat. Data ini dianggap krusial karena akan memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan Federal Reserve ke depan.
Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat argumen untuk kebijakan suku bunga yang lebih ketat, yang berpotensi memberikan tekanan lebih lanjut pada aset-aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.