Story
Mata Uang Asia Melemah Seiring Penguatan Dolar; Sanksi Iran dan Imbal Hasil Treasury Jadi Fokus

Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah pada hari Selasa seiring dengan sedikit pulihnya dolar AS. Para investor tengah menimbang dampak dari perluasan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran serta upaya Washington untuk menekan imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang.
Dolar Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik
Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau naik 0,1% menjadi 98,95 pada pukul 04:50 GMT, melanjutkan kenaikan 0,2% dari sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan sanksi yang lebih luas yang menargetkan Iran.
Bessent menyatakan bahwa negara dan bisnis yang terus berdagang dengan Iran berisiko terputus dari sistem keuangan berbasis dolar. Sebagai tanggapan, Iran bersumpah akan melakukan pembalasan, menambah lapisan ketidakpastian geopolitik bagi pasar. Meskipun berita ini sempat menopang dolar, permintaan terhadap greenback tidak berkelanjutan karena investor tetap khawatir terhadap risiko fiskal AS.
Imbal Hasil Treasury Tetap Tinggi
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS sedikit mereda menyusul laporan bahwa Departemen Keuangan dapat menggunakan dana tunai sekitar $940 miliar di Rekening Umumnya untuk mendanai pembelian surat utang jangka panjang. Langkah ini akan melengkapi rencana untuk menggandakan pembelian kembali (buyback) obligasi bertenor 10 hingga 30 tahun menjadi $4 miliar per operasi mulai 10 September.
AdMeski demikian, imbal hasil Treasury tetap berada di level yang tinggi. Kondisi ini terus menekan biaya pinjaman global dan membatasi kemampuan dolar untuk mempertahankan pemulihannya. Pergerakan mata uang Asia, yang sensitif terhadap biaya pinjaman AS, cenderung tertekan oleh situasi ini.
Pergerakan Regional dan Prospek ke Depan
Di antara mata uang regional, yen Jepang melemah dengan pasangan USD/JPY naik 0,2% ke level 159,35. Won Korea Selatan (USD/KRW) juga terdepresiasi tipis sebesar 0,1%. Sementara itu, pergerakan mata uang lainnya lebih terbatas:
- Yuan Tiongkok (USD/CNY) dan dolar Singapura (USD/SGD) diperdagangkan datar.
- Rupee India (USD/INR) sebagian besar tidak berubah.
- Dolar Australia (AUD/USD) juga bergerak tipis, setelah risalah rapat Reserve Bank of Australia menunjukkan para pembuat kebijakan terpecah pandangan mengenai perlunya kenaikan suku bunga lagi.
Fokus pasar kini beralih ke data indeks harga *personal consumption expenditures* (PCE) AS untuk bulan Juli yang akan dirilis pada hari Rabu. Data ini merupakan pengukur inflasi pilihan Federal Reserve dan akan menjadi acuan penting bagi langkah kebijakan The Fed selanjutnya. Selain itu, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada hari Jumat juga sangat dinantikan untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter.