Story
AS Siap Kembali Intervensi Pasar Valas Bersama Jepang untuk Dukung Yen

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, pada hari Minggu mengisyaratkan kesiapan Washington untuk kembali berpartisipasi dalam intervensi valuta asing terkoordinasi dengan Jepang. Langkah tersebut akan diambil jika pergerakan mata uang yen yang tidak teratur terus berlanjut.
Pernyataan Resmi AS
Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Bessent menyatakan bahwa intervensi bersama yang dilakukan oleh AS dan Jepang pada hari Jumat telah berhasil melawan "pergerakan yen yang tidak teratur". Ia menegaskan bahwa Departemen Keuangan AS terus menjalin komunikasi erat dengan Kementerian Keuangan Jepang (MOF) dan Bank of Japan (BOJ).
"Kami tidak akan ragu untuk berpartisipasi dalam intervensi bersama lebih lanjut," tulis Bessent. Ia menambahkan bahwa Departemen Keuangan juga mendukung perluasan Fasilitas Repo Otoritas Moneter Asing dan Internasional (FIMA) dari Federal Reserve, yang ia sebut sebagai penopang likuiditas yang penting.
Konteks dan Dampak Pasar
Pernyataan ini muncul setelah Jepang mengonfirmasi telah melakukan intervensi pembelian yen terkoordinasi pertama dengan AS sejak 2011. Aksi ini dipicu oleh pelemahan tajam yen Jepang ke level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS.
AdIntervensi terkoordinasi tersebut berhasil memicu rebound tajam bagi yen. Mata uang ini menguat lebih dari 2% pada hari Kamis dan melanjutkan penguatannya pada hari Jumat, mencapai level di bawah 158 per dolar. Pasangan USD/JPY terakhir diperdagangkan di level 157,71.
Presiden Donald Trump juga mendukung intervensi tersebut, menggambarkannya sebagai tindakan persahabatan dan kerja sama ekonomi antara kedua negara sekutu.
Kebijakan Moneter Jepang
Di sisi kebijakan moneter, Bank of Japan pada hari Jumat mempertahankan suku bunga jangka pendeknya tidak berubah di level 1%. Meskipun demikian, BOJ mengisyaratkan kesiapannya untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut jika inflasi yang mendasarinya terus menguat.
Bessent menyatakan bahwa AS sangat mendukung langkah-langkah kebijakan pasar dan moneter Jepang baru-baru ini untuk mengatasi apa yang ia gambarkan sebagai *undervaluation* substansial pada yen. Ia juga menyebut pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi memasuki "fase baru Abenomics yang menarik."