Story
Saham Energi AS Menguat Seiring Harga Minyak Brent Tembus $100 Akibat Serangan Houthi

Summary
Saham-saham energi AS naik tajam setelah serangan terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi mendorong harga minyak mentah Brent melampaui $100 per barel, memicu kekhawatiran baru atas gangguan pasokan global.
Saham-saham perusahaan energi AS menguat dalam perdagangan pre-market pada hari Kamis setelah harga minyak mentah Brent sempat menyentuh $100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah menyusul serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi, yang meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi disrupsi pasokan minyak global.
Kenaikan Harga Minyak Memicu Reli Saham
Serangan yang dilaporkan dilakukan oleh pasukan Houthi di Selat Bab el-Mandeb memicu reli harga minyak selama lima hari berturut-turut. Menurut data Reuters, harga minyak mentah acuan global Brent naik sebanyak 6,3% hingga mencapai $100 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 5,2% menjadi $91,30 per barel.
Kenaikan harga komoditas ini secara langsung berdampak positif pada saham-saham di sektor energi:
- Saham raksasa minyak Exxon Mobil dan Chevron masing-masing naik 1,6% dan 1,7%.
- Perusahaan eksplorasi dan produksi seperti Diamondback Energy, Devon Energy, ConocoPhillips, dan Occidental Petroleum menguat antara 2% hingga 2,5%.
- Saham perusahaan penyulingan (refiners) seperti Valero Energy, Marathon Petroleum, dan Phillips 66 juga mencatat kenaikan antara 2,1% hingga 2,6%.
Eskalasi Konflik dan Risiko Pasokan
AdSerangan Houthi yang menargetkan kapal-kapal yang membawa minyak Saudi telah memperluas area konflik dan meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan ekspor minyak Timur Tengah dapat menyebar di luar Selat Hormuz. Hal ini berpotensi memperketat pasokan minyak mentah global dan menopang harga energi di level yang lebih tinggi.
"Kami tetap memperkirakan proses pemulihan produksi di Timur Tengah akan lebih lambat dari yang diantisipasi pasar, karena memerlukan peningkatan jumlah kapal yang masuk," kata analis UBS, Giovanni Staunovo. "Dengan dimulainya kembali konflik, arus tersebut tetap tertekan. Ini akan menjaga pasar minyak tetap ketat dan harga tertopang."
Konteks Pasar
Lonjakan harga ini terjadi setelah para analis, dalam jajak pendapat Reuters pada bulan Juni, sempat memangkas perkiraan harga minyak mereka untuk tahun 2026 untuk pertama kalinya sejak perang Iran dimulai. Saham-saham energi telah menunjukkan volatilitas yang tinggi, bergerak seiring dengan perkembangan konflik, melonjak karena kekhawatiran gangguan pasokan dan kemudian terkoreksi setelah adanya kesepakatan damai sementara.