Story
AS Tuntut Komitmen Publik Iran untuk Hentikan Serangan di Selat Hormuz

Amerika Serikat menuntut Iran untuk secara terbuka berkomitmen menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan menjamin semua jalur di perairan strategis tersebut tetap terbuka tanpa pungutan. Tuntutan ini disampaikan oleh para pejabat senior AS di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Menurut para pejabat tersebut, pembicaraan antara kedua negara telah produktif dalam beberapa hari terakhir. Namun, AS tetap pada pendiriannya. "Apa yang kami tuntut adalah agar Iran mengeluarkan pernyataan publik yang mengakui semua kanal di Selat Hormuz terbuka dan mereka tidak lagi menembaki kapal," kata seorang pejabat.
Eskalasi Terbaru dan Upaya Diplomatik
Tuntutan ini mengemuka setelah tiga kapal tanker komersial Qatar dan Arab Saudi diserang pada minggu ini, yang memicu serangan balasan dari AS ke situs-situs Iran, dan kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan ke fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. Akibatnya, Presiden AS Donald Trump telah menyatakan bahwa gencatan senjata yang ditandatangani pada bulan Juni telah berakhir.
Sebagai respons diplomatik, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dilaporkan akan melakukan perjalanan ke Oman pada hari Sabtu untuk membahas hubungan bilateral dan perkembangan regional, terutama situasi di selat tersebut. Di sisi lain, seorang pejabat AS menyebutkan bahwa Iran telah memberitahu Washington bahwa serangan-serangan baru-baru ini berasal dari "bagian yang salah dari sistem mereka", yang mengindikasikan kemungkinan adanya perebutan kekuasaan internal di Iran.
Isu Nuklir Sebagai Syarat Utama
AdDi luar keamanan maritim, tuntutan fundamental dari AS adalah penyerahan material nuklir Iran. Teheran diyakini memiliki lebih dari 900 pon uranium yang diperkaya tinggi, yang oleh para pejabat AS disebut sebagai "debu nuklir".
Isu nuklir ini merupakan bagian dari periode negosiasi 60 hari berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada bulan Juni. "Saya hanya ingin memperjelas di sini bahwa jika kami не mendapatkan 'debu' itu, kami tidak memiliki kesepakatan dengan Iran," tegas seorang pejabat, seraya menambahkan bahwa AS memiliki "banyak opsi" militer dan ekonomi jika Iran menolak.
Implikasi bagi Pasar Minyak
Selat Hormuz adalah titik kritis (chokepoint) maritim yang sangat vital, di mana sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia melewatinya. Setiap eskalasi konflik atau gangguan terhadap pelayaran di wilayah ini berpotensi besar menyebabkan lonjakan harga minyak global dan volatilitas di pasar energi.
Investor dan pelaku pasar akan memantau dengan cermat hasil dari upaya diplomatik yang akan datang serta setiap pernyataan publik dari Iran. Ketidakpastian mengenai keamanan di Selat Hormuz tetap menjadi faktor risiko utama bagi pasar komoditas dan stabilitas ekonomi global.