Story
Saham Stellantis Anjlok Usai Peringkatnya Diturunkan Beruntun oleh Analis

Summary
Saham produsen otomotif Stellantis merosot tajam setelah Berenberg dan Morgan Stanley menurunkan peringkat sahamnya, menyoroti kekhawatiran atas margin di Amerika Utara dan tekanan kompetitif.
Saham Stellantis NV (STLAM) anjlok 2,8% ke level €4,364 dalam perdagangan hari Selasa setelah dua firma analis ternama menurunkan peringkatnya secara beruntun. Aksi jual ini mendorong saham produsen otomotif tersebut ke level terendah dalam 52 pekan terakhir, merefleksikan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pendapatan perusahaan.
Rentetan Penurunan Peringkat
Tekanan jual dipicu oleh Berenberg yang menurunkan peringkat saham Stellantis dari "Beli" menjadi "Tahan". Firma tersebut juga memangkas target harganya secara signifikan sebesar 35%, dari €7,80 menjadi €5,10.
Menurut Berenberg, penurunan peringkat ini didasari oleh beberapa faktor:
- Leverage operasi yang lemah di tengah pemulihan volume, terutama di Amerika Utara di mana perbaikan margin tertinggal dari pemulihan pengiriman.
- Potensi tekanan lebih lanjut dari proses pengurangan stok inventaris (destocking) yang diperkirakan akan membebani volume penjualan di paruh kedua tahun ini.
AdLangkah Berenberg ini menyusul aksi serupa dari Morgan Stanley sehari sebelumnya. Morgan Stanley menurunkan peringkat Stellantis menjadi "Underweight" dari "Equal-Weight" dan memotong target harganya dari €5,70 menjadi €4,50. Analis Morgan Stanley beralasan bahwa pemulihan perusahaan di pasar AS masih mandek sementara tekanan kompetitif terus meningkat.
Dampak Pasar dan Tantangan Struktural
Kombinasi dua penurunan peringkat dari analis berpengaruh dalam waktu 48 jam telah memperkuat pesimisme pasar. Saham Stellantis kini diperdagangkan di dekat level terendah intraday €4,35, yang juga merupakan level terendah dalam 52 pekan.
Kondisi ini membuat saham tersebut anjlok lebih dari 58% dari level tertinggi 52 pekannya di €10,494. Secara struktural, Stellantis juga menghadapi tantangan di mana pangsa pasarnya di Eropa telah tergerus dari sekitar 20% pada tahun 2021 menjadi sekitar 15% pada paruh pertama tahun 2026. Penurunan ini diatribusikan pada kesalahan langkah strategi kendaraan listrik (EV) yang memakan biaya besar dan meningkatnya tekanan dari mobil listrik Tiongkok yang lebih murah.