Story
Pound Sterling Menguat, Dolar Melemah Menanti Data Pekerjaan AS

Summary
Pound sterling mencapai level tertinggi dalam dua minggu pada hari Kamis seiring dengan melemahnya dolar AS. Para investor kini menantikan rilis data ketenagakerjaan penting dari Amerika Serikat.
Pound sterling diperdagangkan pada level tertinggi dalam dua minggu pada hari Kamis, sementara euro juga pulih dari level terendah satu tahun. Penguatan ini terjadi karena dolar AS melemah menjelang rilis data ketenagakerjaan setelah Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, tidak memberikan sinyal hawkish (agresif) yang baru dalam sebuah panel. Pasangan mata uang GBP/USD dilaporkan naik menjadi $1,3310.
Menurut Chris Turner, Kepala Pasar Global di ING, pasar valuta asing dan suku bunga tampaknya "sedikit terlalu terburu-buru dalam mengharapkan konfirmasi pandangan hawkish dari Kevin Warsh." Ketika tidak ada pernyataan agresif yang muncul, suku bunga jangka pendek AS turun dan dolar melemah. Hal ini menunjukkan bahwa The Fed kemungkinan akan membiarkan data ekonomi yang akan datang untuk mengarahkan ekspektasi pasar.
Fokus pasar kini beralih ke laporan non-farm payrolls (data penggajian non-pertanian) AS untuk bulan Juni. Konsensus pasar memperkirakan adanya penambahan sekitar 115.000 pekerjaan. Analis berpendapat bahwa dolar dapat tetap relatif kuat jika data tersebut tidak meleset jauh dari perkiraan, dan berpotensi menguat jika angkanya melebihi ekspektasi.
AdAnalis dari ING mencatat bahwa kenaikan pound saat ini tidak didorong oleh fundamental ekonomi Inggris. Sebelumnya, Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, justru memberikan nada dovish (kurang agresif) dengan menyoroti pelemahan ekonomi Inggris. Kenaikan pound lebih dikaitkan dengan aksi short-covering, yaitu ketika investor yang sebelumnya bertaruh melawan pound mulai membeli kembali mata uang tersebut untuk menutup posisi mereka.