Story
Pakistan dan Iran Jajaki Perundingan Baru dengan AS Atas Dorongan China

Summary
Pakistan dilaporkan sedang menjajaki jalur untuk memulai kembali perundingan yang macet antara Iran dan AS, sebuah upaya yang diinisiasi oleh China di tengah meningkatnya ketegangan maritim di Timur Tengah yang mengancam rute perdagangan global.
Pakistan sedang menjajaki jalur untuk menghidupkan kembali perundingan yang terhenti antara Iran dan Amerika Serikat, menyusul dorongan diplomatik yang diinisiasi oleh China. Menurut tiga sumber di Pakistan, upaya ini dilakukan di tengah eskalasi konflik regional yang semakin mengancam stabilitas dan jalur perdagangan maritim.
Dorongan Diplomatik Beijing
Pembicaraan eksplorasi berlangsung selama kunjungan Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, ke Islamabad pekan ini, yang merupakan kunjungan keduanya dalam 10 hari terakhir. Momeni, yang dianggap dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran, bertemu dengan para pemimpin pemerintah Pakistan dan Panglima Angkatan Darat Asim Munir, menurut pernyataan resmi pemerintah Pakistan.
Inisiatif ini didorong oleh kepentingan ekonomi China. "Pihak China tidak senang karena serangan Iran terhadap negara-negara Teluk lainnya dan penutupan Selat Hormuz memukul kepentingan mereka," kata seorang pejabat pemerintah Pakistan. Gangguan di Laut Merah juga akan berdampak pada rute perdagangan penting lainnya yang diandalkan Beijing. Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi dalam sebuah pernyataan bahwa "China mendukung upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan dan pihak lain."
AdTantangan dan Prasyarat Baru
Upaya diplomatik ini menghadapi rintangan yang signifikan. Pakistan berada dalam posisi yang rumit, terjepit di antara aliansi dekatnya dengan Arab Saudi—yang merupakan pendukung finansial utama Islamabad—dan ketergantungannya pada China, yang merupakan mitra dagang terbesar Iran. Eskalasi terbaru, di mana kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, semakin memperumit situasi.
Serangan Houthi terhadap dua tanker minyak Saudi baru-baru ini mengancam akan menciptakan titik sumbat kedua bagi pasokan minyak global, di samping penutupan de facto Selat Hormuz. Akibatnya, prasyarat baru untuk negosiasi telah muncul. Seorang pejabat Pakistan menyatakan bahwa penghentian serangan terhadap Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya kini menjadi "prasyarat agar perundingan dapat dilanjutkan," sebuah pesan yang telah disampaikan Islamabad kepada Teheran.