Story

Harga Minyak Anjlok $4 di Tengah Sinyal De-eskalasi AS-Iran

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Aug 3, 20262 min read
Harga Minyak Anjlok $4 di Tengah Sinyal De-eskalasi AS-Iran

Summary

Harga minyak mentah merosot tajam lebih dari 4% setelah Presiden AS Donald Trump menunda serangan militer terhadap Iran, memicu harapan pasar akan tercapainya kesepakatan nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Text size
Background

Harga minyak anjlok sekitar $4 per barel pada perdagangan hari Senin, menyusul meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menahan serangan baru terhadap Iran. Langkah ini diambil untuk mengupayakan kesepakatan cepat yang akan menghentikan ambisi nuklir Teheran dan membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.

Rincian Pelemahan Harga

Menurut data Reuters per 23:52 GMT, harga minyak mentah berjangka Brent anjlok $4,08 atau 4,64%, menjadi $83,85 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun $4,01, atau 4,74%, ke level $80,66 per barel.

Penurunan tajam ini berbanding terbalik dengan tren bulan lalu, di mana kedua kontrak acuan tersebut melonjak lebih dari 20%. Kenaikan sebelumnya dipicu oleh dimulainya kembali pertempuran antara AS dan Iran serta serangkaian serangan terhadap kapal tanker di sekitar Oman yang meningkatkan kekhawatiran keamanan dan menghalangi pengiriman minyak dari Teluk.

Sinyal De-eskalasi dari Washington

Pemicu utama pelemahan harga adalah pernyataan yang dirilis Trump pada hari Sabtu malam melalui platform Truth Social. Dalam pernyataannya, ia menyebutkan bahwa Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya telah meminta waktu untuk menyelesaikan sebuah kesepakatan.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Kesepakatan tersebut, menurut Trump, akan mengarah pada pembukaan kembali Selat Hormuz yang "Seketika, Lengkap dan Total" serta "akhir dari ancaman nuklir Iran". Pernyataan ini ditafsirkan oleh pasar sebagai tanda de-eskalasi yang signifikan.

Sentimen Pasar dan Risiko Berkelanjutan

Meskipun ada optimisme, pasar tetap waspada. "Fokus yang lebih besar adalah apakah minggu ini akan menjadi pengulangan dari minggu lalu—dengan harapan kesepakatan gagal karena Iran bertahan pada posisinya," kata Tony Sycamore, seorang analis pasar di IG. Ia menambahkan bahwa Iran dapat terus memanfaatkan kontrolnya atas Selat Hormuz.

Kekhawatiran keamanan belum sepenuhnya hilang. United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan tiga serangan tanker lagi sejak Sabtu. Selain itu, data pengiriman pada hari Senin menunjukkan lalu lintas di Selat Hormuz melambat setelah laporan serangan kapal.

Di sisi pasokan, OPEC+ pada hari Minggu menyetujui kenaikan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari mulai September. Namun, langkah ini dinilai memiliki dampak terbatas di pasar karena kenaikan bulanan OPEC+ selama ini sebagian besar tetap di atas kertas akibat gangguan ekspor dari Rusia dan Kazakhstan.

Back to latest news

LATEST