Story
Harga Minyak Melonjak Lebih dari 2% Akibat Serangan di Infrastruktur Energi Arab Saudi

Summary
Harga minyak mentah naik lebih dari 2% pada hari Senin menyusul serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi utama Arab Saudi dan kapal-kapal di Timur Tengah, yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 2% pada hari Senin karena meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global menyusul serangan baru terhadap infrastruktur Arab Saudi dan kapal-kapal di Timur Tengah. Eskalasi ketegangan geopolitik ini secara langsung mengancam jalur-jalur vital distribusi minyak dunia.
Detail Serangan dan Dampaknya
Menurut laporan Reuters, kenaikan harga dipicu oleh serangkaian insiden keamanan. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan baru terhadap pangkalan udara militer Arab Saudi. Insiden ini terjadi setelah serangan pada hari Jumat yang melumpuhkan pipa minyak timur-barat milik Arab Saudi, sebuah arteri krusial yang mengalihkan pengiriman minyak ke Laut Merah dari Selat Hormuz.
Serangan terhadap pipa tersebut mengancam hingga 4% dari pasokan minyak global. Akibatnya, pelabuhan Laut Merah di Yanbu kini harus mengandalkan stok penyimpanan, yang diperkirakan hanya cukup untuk menutupi ekspor selama lima hingga tujuh hari. Selain itu, data pelacakan kapal menunjukkan transit kapal komoditas melalui Selat Hormuz turun drastis selama akhir pekan.
Reaksi Pasar dan Prospek Pasokan
AdHingga pukul 11:39 EDT (1539 GMT), harga minyak berjangka Brent naik $2,72, atau 2,6%, menjadi $107,33 per barel. Sementara itu, patokan minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat $2,51, atau 2,5%, ke level $102,56 per barel. Kedua patokan ini berada di jalur untuk penutupan tertinggi sejak 19 Mei.
Analis pasar mencermati durasi gangguan ini. "Reaksi harga yang relatif terkendali menunjukkan pasar masih berekspektasi bahwa persediaan Saudi dapat menopang ekspor dalam jangka pendek," kata Janiv Shah, analis pasar minyak di Rystad, dalam sebuah catatan. "Namun, jika gangguan melampaui bantalan persediaan lima hingga tujuh hari, situasinya bisa berubah dengan cepat."
Kenaikan harga sempat terbatas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Ukraina dan Rusia telah setuju untuk tidak menargetkan fasilitas energi satu sama lain, dan bahwa Iran ingin segera mencapai kesepakatan. Namun, ancaman langsung terhadap fasilitas produksi dan transportasi di Timur Tengah tetap menjadi fokus utama bagi investor energi.