Story
Harga Minyak Turun, Namun Menuju Kenaikan Mingguan Tajam di Tengah Konflik Timur Tengah

Summary
Harga minyak mentah turun tipis pada perdagangan Asia, namun tetap berada di jalur untuk kenaikan mingguan yang signifikan untuk minggu ketiga berturut-turut akibat meningkatnya ketegangan AS-Iran dan gangguan pasokan di Laut Merah.
Harga minyak turun pada perdagangan Asia hari Jumat, namun bersiap untuk membukukan kenaikan mingguan yang kuat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan global. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta serangan terhadap kapal tanker, menjadi pendorong utama sentimen pasar.
Menurut data terbaru, minyak mentah berjangka Brent turun 0,6% menjadi $100,09 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 0,6% ke level $91,62 per barel. Meskipun terjadi penurunan harian, Brent berada di jalur kenaikan 14% untuk minggu ini.
Eskalasi Konflik Memicu Kekhawatiran Pasokan
Kenaikan harga minyak minggu ini sebagian besar dipicu oleh serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal tanker Arab Saudi di Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah. Insiden ini membuka front baru dalam konflik regional dan meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak.
Menanggapi serangan tersebut, Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis mengancam akan memberikan "hukuman militer besar" terhadap Iran dan Houthi. Menurut laporan The New York Times, Iran telah menolak proposal gencatan senjata yang didukung AS, yang mengindikasikan bahwa upaya diplomasi hampir sepenuhnya gagal.
AdDampak Terhadap Pasar Global
Serangan di Selat Bab al-Mandeb sangat signifikan karena Arab Saudi telah menggunakan rute tersebut untuk menghindari potensi gangguan di Selat Hormuz. Agresi Houthi di wilayah tersebut menandakan adanya risiko gangguan yang lebih luas terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah.
Perkembangan ini terjadi di tengah pengetatan inventaris minyak global pada bulan Juli. Prospek pasokan yang memburuk dapat menyebabkan:
- Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan.
- Memicu kekhawatiran terhadap inflasi yang persisten akibat kenaikan harga energi.
- Potensi mendorong bank-bank sentral utama global untuk mengambil sikap kebijakan moneter yang lebih ketat atau *hawkish*.