Story
Harga Minyak Melonjak Setelah AS Serang Fasilitas Peluncuran Iran di Pulau Larak

Summary
Harga minyak mentah naik tajam di perdagangan Asia menyusul serangan militer AS terhadap fasilitas peluncuran Iran di dekat Selat Hormuz, memicu kembali kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Harga minyak melonjak pada sesi perdagangan Asia hari Senin, setelah militer AS dilaporkan melancarkan serangan terhadap dua fasilitas peluncuran di Pulau Larak, Iran. Insiden ini membangkitkan kembali kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pengiriman energi melalui Selat Hormuz yang strategis.
Pada pukul 12:53 WIB (00:53 ET), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November naik 2,5% menjadi $90,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,2% ke level $85,24 per barel.
Rincian Serangan dan Eskalasi
Kenaikan harga dipicu oleh operasi militer AS pada hari Minggu terhadap dua situs peluncuran di Pulau Larak, yang terletak berdekatan dengan Selat Hormuz. Ini merupakan aksi militer pertama AS terhadap Iran yang diketahui publik sejak akhir Juli.
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terdeteksi sedang bersiap untuk menembakkan roket pembawa ranjau ke jalur perairan vital tersebut. Sebagai aksi balasan, Fox News melaporkan, mengutip sumber-sumber AS, bahwa Iran kemudian meluncurkan rudal ke arah pasukan AS yang ditempatkan di Yordania. Laporan tersebut menambahkan bahwa sebagian besar rudal berhasil dicegat dan tidak ada korban jiwa yang signifikan.
Dampak Pasar dan Prospek Pasokan
AdAnalis dari ING Group menyoroti bahwa perkembangan situasi ini menjadi krusial. "Kuncinya adalah apakah insiden ini akan memicu siklus saling serang yang baru antara kedua belah pihak, dan apakah ini akan membuat perusahaan pelayaran ragu untuk melintasi Selat Hormuz," tulis mereka dalam sebuah catatan.
Para analis menambahkan bahwa kepercayaan diri produsen minyak di kawasan untuk mengirimkan minyak mentah melalui selat tersebut sebenarnya telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan rata-rata volume mencapai 5 juta barel per hari. Arus pasokan ini kini berisiko terganggu jika ketegangan terus meningkat.
Konteks Geopolitik
Pasar minyak telah menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap perkembangan di Timur Tengah sepanjang tahun ini. Harga Brent telah berulang kali bergejolak seiring dengan perubahan ekspektasi pasar terhadap eskalasi militer, perundingan gencatan senjata, dan prospek pemulihan pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, pasar juga mencermati dinamika pasokan yang lebih luas. Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu menyatakan bahwa Washington akan mulai mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve) menggunakan minyak yang diperoleh dari kesepakatan baru dengan Venezuela.