Story
Harga Minyak Lanjutkan Kenaikan di Tengah Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz

Summary
Harga minyak mentah naik untuk sesi keempat berturut-turut karena kebuntuan antara AS dan Iran atas Selat Hormuz memicu kekhawatiran tentang pasokan global yang ketat.
Harga minyak naik untuk sesi keempat berturut-turut pada hari Rabu, didorong oleh ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan yang berkepanjangan di jalur perairan minyak yang krusial tersebut.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 0,45% menjadi $85,32 per barel pada pukul 19:45 ET (23:45 GMT), menurut data dari Investing.com. Baik WTI maupun Brent telah mencapai level tertinggi dalam hampir tiga minggu terakhir karena faktor geopolitik ini.
Kebuntuan di Selat Hormuz Memicu Kekhawatiran
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung atau dijadwalkan dengan Iran. Pihak Iran juga menegaskan posisi serupa dan menyatakan bahwa jalur perairan utama tersebut akan tetap ditutup sampai AS memenuhi persyaratan dari kesepakatan sementara yang ditandatangani pada bulan Juni.
Kesepakatan tersebut telah berakhir minggu ini, tanpa ada indikasi perpanjangan dari kedua belah pihak. Selat Hormuz adalah titik vital bagi pasar energi global, di mana sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia melewatinya sebelum konflik. Data pengiriman menunjukkan bahwa lalu lintas komersial melalui selat tersebut saat ini hanya sebagian kecil dari tingkat normal, yang mengindikasikan gangguan pasokan yang signifikan.
AdStok AS yang Menipis Memberi Dukungan Tambahan
Selain faktor geopolitik, momentum kenaikan harga minyak juga didukung oleh data dari American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan kontraksi kecil dalam persediaan minyak mentah AS minggu lalu. Laporan API sering kali menjadi sinyal awal untuk data persediaan resmi pemerintah yang akan dirilis kemudian.
Menipisnya persediaan AS menandakan kondisi pasokan yang lebih ketat di negara konsumen minyak terbesar di dunia tersebut. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve) AS baru-baru ini menyusut ke level terendah dalam lebih dari 40 tahun akibat perang Iran.