Story

Saham O-I Glass Anjlok 15% Setelah Laba Meleset dan Proyeksi Dipangkas

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 28, 20261 min read
Saham O-I Glass Anjlok 15% Setelah Laba Meleset dan Proyeksi Dipangkas

Summary

Saham produsen kemasan kaca O-I Glass anjlok tajam setelah perusahaan melaporkan laba kuartal kedua yang jauh di bawah ekspektasi, mencatat beban penurunan nilai goodwill yang masif, dan memangkas proyeksi keuangannya.

Text size
Background

Saham O-I Glass (NYSE: OI) anjlok 15,0% dalam perdagangan pasca-jam kerja, mencapai $7,7, setelah perusahaan merilis laporan kinerja kuartal kedua 2026 yang sangat mengecewakan. Kinerja buruk ini dipicu oleh laba yang jauh di bawah perkiraan, beban penurunan nilai goodwill yang signifikan, dan pemangkasan proyeksi keuangan secara besar-besaran.

Kinerja Kuartal II yang Mengecewakan

O-I Glass melaporkan laba per saham (EPS) yang disesuaikan hanya sebesar $0,09 untuk kuartal kedua, jauh meleset dari konsensus analis sebesar $0,29. Pendapatan perusahaan juga tidak mencapai target, tercatat sebesar $1,67 miliar, sedikit di bawah estimasi $1,7 miliar.

Menurut laporan perusahaan, pendapatan tersebut mencerminkan penurunan 2% dari tahun ke tahun. Penurunan ini terutama didorong oleh anjloknya volume penjualan sebesar 4,5%, yang mengindikasikan tekanan permintaan di pasar utama.

Beban Penurunan Nilai dan Proyeksi Suram

Selain kinerja operasional yang lemah, O-I Glass mencatat beban penurunan nilai goodwill non-tunai sebesar $873 juta. Beban akuntansi yang masif ini mendorong perusahaan mencatatkan rugi bersih GAAP sebesar $6,33 per saham untuk kuartal tersebut.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Manajemen secara bersamaan memangkas tajam proyeksi keuangan (guidance) untuk sisa tahun 2026 dan keseluruhan tahun 2027. Langkah ini semakin mengguncang kepercayaan investor, terutama setelah perusahaan telah melakukan delapan kali revisi EPS negatif berturut-turut dalam 90 hari sebelumnya.

Konteks dan Dampak Pasar

Kekecewaan pada kuartal kedua ini mengikuti tren negatif dari kuartal pertama, di mana EPS yang disesuaikan sebesar $0,05 juga gagal memenuhi ekspektasi. Hal ini menggarisbawahi tekanan operasional yang terus-menerus dihadapi perusahaan, termasuk:

  • Inflasi biaya energi di Eropa.
  • Volume kemasan yang lemah di segmen minuman beralkohol.
  • Persaingan ketat di pasar anggur Eropa Selatan.

Kombinasi dari laba yang meleset tajam, beban impairment hampir satu miliar dolar, dan pemangkasan proyeksi yang menimbulkan keraguan atas prospek pemulihan perusahaan menjadi sentimen negatif yang luar biasa bagi saham. Akibatnya, harga saham terdorong mendekati level terendah dalam 52 minggu di $7,75 pada perdagangan pasca-jam kerja.

Back to latest news

LATEST