Story
Pemimpin Tertinggi Iran Bersumpah Balas Dendam Atas Kematian Pendahulunya

Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, pada hari Sabtu bersumpah akan melakukan pembalasan atas kematian ayah sekaligus pendahulunya, yang terbunuh dalam serangan udara AS-Israel. Pernyataan ini meningkatkan ketidakpastian di kawasan tersebut di tengah upaya gencatan senjata yang goyah antara Teheran dan Washington.
Sumpah Pembalasan
Dalam pesan publik pertamanya sejak diangkat pada 8 Maret, sebuah pernyataan tertulis dari Ayatollah Mojtaba Khamenei dibacakan di televisi pemerintah. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembalasan adalah "tuntutan bangsa" dan "pasti harus" terjadi.
"Kami berjanji untuk membalas darah pemimpin yang menjadi martir dan semua martir dari dua perang ini dari para pembunuh kriminal dan terhina," demikian bunyi pernyataan itu, merujuk pada Ayatollah Ali Khamenei yang terbunuh pada 28 Februari. Pernyataan itu menambahkan bahwa misi ini pada akhirnya akan dipenuhi tidak hanya oleh Iran tetapi juga oleh "setiap orang merdeka di seluruh dunia."
Meningkatnya Ketegangan dan Ketidakpastian
Sumpah pembalasan ini muncul di tengah keraguan atas gencatan senjata yang disepakati antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang empat bulan. Serangkaian serangan balasan antara pasukan AS dan Iran minggu ini telah menguji kesepakatan tersebut, meskipun Presiden AS Donald Trump pada hari Jumat menyatakan bahwa pembicaraan akan terus berlanjut.
AdKetidakpastian politik di Iran diperparah oleh absennya Mojtaba Khamenei dari pandangan publik. Belum ada foto, video, atau rekaman audio dirinya yang dirilis sejak serangan udara tersebut. Sumber-sumber senior menyebutkan ia menderita luka pada wajah dan cedera lainnya dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya.
Latar Belakang
Ayatollah Ali Khamenei, yang memerintah selama 37 tahun, dimakamkan pada hari Jumat setelah upacara pemakaman yang dihadiri oleh kerumunan besar, menurut laporan media pemerintah. Penggantinya, Mojtaba Khamenei, naik ke tampuk kekuasaan dengan dukungan dari Garda Revolusi yang kuat.
Absennya pemimpin baru dari sorotan publik telah menimbulkan kegelisahan di kalangan masyarakat Iran, dengan beberapa pihak menuntut agar ia tampil di depan umum untuk menunjukkan stabilitas kepemimpinan, bahkan jika ia terluka.