Story

Iran Serang Target Militer AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh di Tengah Eskalasi

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 12, 20262 min read
Iran Serang Target Militer AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh di Tengah Eskalasi

Summary

Angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur militer AS di beberapa negara Teluk, mengakhiri gencatan senjata tiga minggu dan meningkatkan risiko geopolitik di jalur pelayaran minyak utama.

Text size
Background

Iran melancarkan serangan terhadap target militer Amerika Serikat di beberapa negara Teluk pada hari Kamis, sebuah eskalasi signifikan yang meruntuhkan gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga minggu. Langkah ini merupakan balasan atas serangan AS di provinsi-provinsi selatan dan timur Iran, yang semakin meningkatkan ketegangan di kawasan yang vital bagi pasokan energi global.

Saling Balas Serangan Militer

Tentara Iran, dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh media pemerintah, mengklaim telah menargetkan sejumlah aset militer AS. Serangan tersebut dilaporkan menargetkan:

  • Sistem pertahanan udara Patriot AS di Kuwait.
  • Situs peringatan dini di Qatar.
  • Depot bahan bakar Angkatan Darat AS di Bahrain.

Selain itu, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menembakkan 10 rudal balistik ke pangkalan militer Azraq di Yordania, yang digunakan oleh pasukan AS. Kuwait mengonfirmasi bahwa angkatan bersenjatanya mencegat satu rudal jelajah, tiga rudal balistik, dan 10 drone, dengan satu orang terluka akibat serpihan yang jatuh. Yordania juga melaporkan berhasil mencegat delapan rudal tanpa ada korban jiwa.

Serangan Iran ini merupakan balasan atas tindakan militer AS sehari sebelumnya. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya telah menyerang sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, aset pengawasan pesisir, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone. Menurut media pemerintah Iran, serangan AS tersebut menewaskan 14 orang dan melukai 78 lainnya.

Perebutan Kontrol Selat Hormuz

Sample IUX Markets – In-articleAd

Ketegangan berpusat di sekitar Selat Hormuz, jalur yang menangani sekitar seperlima dari pasokan minyak global sebelum konflik. Garda Revolusi Iran menuduh intervensi AS mengganggu upaya pembukaan kembali jalur air tersebut, dan menegaskan bahwa selat itu hanya akan dibuka kembali "di bawah pengaturan Iran".

Sebaliknya, militer AS menyatakan bahwa Iran tidak mengontrol jalur air tersebut. Pihak AS mengklaim telah membantu memfasilitasi transit lebih dari 800 kapal komersial dan 380 juta barel minyak mentah melalui selat itu sejak awal Mei. Setiap intervensi lebih lanjut dari AS akan mendapat "respons yang menghancurkan," kata Garda Revolusi.

Implikasi Pasar dan Upaya Diplomatik

Eskalasi terbaru ini berdampak langsung pada pasar komoditas. Harga minyak sempat melonjak karena kekhawatiran akan gangguan pasokan yang parah, namun kemudian dilaporkan berbalik turun pada hari Kamis, menunjukkan ketidakpastian pasar dalam menilai risiko konflik yang berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya konfrontasi militer, seruan untuk diplomasi muncul dari beberapa negara di kawasan. Qatar, Turki, dan Oman menyerukan perlunya menghindari eskalasi militer lebih lanjut dan kembali ke meja perundingan. Namun, seorang pejabat AS menyatakan bahwa meskipun "pembicaraan teknis berlanjut," Presiden Donald Trump telah mendeklarasikan gencatan senjata tersebut "berakhir", menambah ketidakpastian atas resolusi konflik.

Back to latest news

LATEST