Story
Iran Perluas Serangan ke Negara Teluk, Deklarasikan Penutupan Selat Hormuz

Pasukan Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam serangan rudal dan drone besar-besaran, dengan Teheran menargetkan fasilitas AS di beberapa negara Teluk pada hari Minggu dan menyatakan telah menutup kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Eskalasi ini memperluas jangkauan konflik dan meningkatkan ketidakpastian bagi pasar energi global.
Eskalasi Serangan dan Penutupan Selat
Iran melancarkan serangan balasan yang signifikan, menandai percepatan dan perluasan konflik. Untuk pertama kalinya sejak April, serangan ditujukan ke Qatar, dan Uni Emirat Arab juga menjadi target untuk pertama kalinya sejak awal Mei. Garda Revolusi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas AS di Yordania, Kuwait, Oman, dan Qatar.
Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk Iran menyatakan pada hari Minggu bahwa pelayaran melalui selat tersebut "saat ini tidak memungkinkan" karena "gerakan ilegal pasukan militer Amerika Serikat baru-baru ini di wilayah tersebut." Iran juga dilaporkan menyerang dua kapal komersial, termasuk kapal kontainer GFS Galaxy, yang mengakibatkan satu warga negara India hilang dan 23 awak kapal lainnya diselamatkan oleh Oman, menurut otoritas masing-masing negara.
Respons Militer AS dan Dampak Regional
Amerika Serikat merespons dengan serangan balasan yang kuat. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa pasukannya telah menyerang 140 target militer Iran pada hari Sabtu, dan lebih dari 300 target selama tiga malam terakhir. Tujuannya adalah "untuk menurunkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang transit secara bebas di selat itu."
AdWashington menegaskan bahwa Iran tidak mengendalikan selat tersebut dan lalu lintas tetap berjalan, meskipun melalui rute selatan yang diperluas di dekat Oman. Negara-negara Teluk yang menjadi sasaran melaporkan berbagai dampak:
- Qatar: Tiga orang, termasuk seorang anak, terluka oleh pecahan peluru.
- Kuwait: Melaporkan kerusakan akibat serangan dan seorang pekerja terluka di anjungan pengeboran minyak.
- UEA & Bahrain: Mengatakan pertahanan udara mereka berhasil mencegat beberapa serangan udara Iran.
Konteks dan Implikasi Pasar
Kekerasan terbaru ini menimbulkan keraguan serius atas masa depan kesepakatan sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu, yang bertujuan untuk membuka kembali selat dan mengakhiri perang. Blokade efektif Iran terhadap Selat Hormuz, yang sebelum perang menangani sekitar satu perlima dari pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, telah mendorong harga energi lebih tinggi dan memicu inflasi global.
Kenaikan harga energi menjadi isu sensitif secara politik bagi AS menjelang pemilu sela bulan November. Ketegangan yang terus berlanjut di jalur air strategis ini menjadi risiko utama bagi stabilitas pasar energi dan ekonomi global. Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan di platform X, "Era kesepakatan sepihak SUDAH BERAKHIR. Kami sudah bilang: tepati janjimu atau bayar harganya."