Story
FTSE 100 Melemah Akibat Krisis Selat Hormuz, Abaikan Data Ritel yang Kuat

Summary
Indeks saham Inggris turun pada hari Jumat karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah membayangi data penjualan ritel domestik yang lebih kuat dari perkiraan.
Indeks saham acuan Inggris melemah pada perdagangan Jumat, tertekan oleh eskalasi krisis di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran investor. Sentimen negatif ini mengalahkan data penjualan ritel domestik yang secara tak terduga menunjukkan pertumbuhan kuat.
Pada pukul 07:15 GMT, indeks FTSE 100 turun 0,31%. Indeks utama Eropa lainnya juga berada di zona merah, dengan DAX Jerman melemah 0,44% dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,38%.
Ketegangan Geopolitik Membebani Pasar
Kekhawatiran pasar dipicu oleh meningkatnya ketegangan setelah Korps Garda Revolusi Iran dilaporkan menyerang sebuah kapal tanker berbendera Togo yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Data awal menunjukkan lalu lintas kapal kargo di selat strategis tersebut turun drastis, dengan hanya empat kapal yang melintas pada hari Kamis, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 16 kapal.
Seorang pejabat senior PBB, Rania al-Mashat, mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa konflik tersebut telah merugikan ekonomi negara-negara Arab sekitar $150 miliar pada bulan pertama, setara dengan sekitar 4% dari PDB regional. Ketidakpastian semakin diperparah oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan meningkatkan eskalasi terhadap Iran.
Data Ekonomi dan Kebijakan Bank Sentral
AdDi tengah sentimen geopolitik yang suram, data ekonomi dari Inggris justru memberikan kejutan positif. Office for National Statistics melaporkan bahwa volume penjualan ritel Inggris naik 0,5% pada bulan Agustus, berbanding terbalik dengan konsensus pasar yang memprediksi penurunan 0,2%.
Data yang kuat ini memberikan sedikit dukungan bagi mata uang sterling, yang menguat 0,07% terhadap dolar AS ke level 1,3367. Di sisi kebijakan moneter, Bank of England pada hari Kamis mempertahankan suku bunga dan mengubah kerangka kerja pengetatan kuantitatif (quantitative tightening), dengan menangguhkan semua penjualan obligasi pemerintah (gilt) hingga April 2027.
Dampak pada Komoditas
Di pasar komoditas, harga minyak mentah justru turun meskipun terjadi gangguan pasokan di Hormuz. Harga minyak Brent turun 2,1% menjadi $102,62 per barel, sementara WTI turun 1,8% menjadi $100,10. Penurunan ini sebagian disebabkan oleh laporan bahwa Arab Saudi dapat memulihkan sebagian kapasitas pipa East-West yang rusak dalam beberapa hari, yang merupakan rute alternatif utama untuk menghindari Selat Hormuz.
Sebaliknya, harga emas melonjak karena permintaan sebagai aset aman (safe-haven). Harga emas spot naik 1,14% menjadi $4.390,68 per ons, karena investor mencari perlindungan dari ketidakpastian geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah.