Story

USDA Pangkas Peringkat Jagung, Harga Kontrak Berjangka Terdongkrak

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Aug 18, 20261 min read
USDA Pangkas Peringkat Jagung, Harga Kontrak Berjangka Terdongkrak

Summary

Harga kontrak berjangka jagung menguat setelah Departemen Pertanian AS (USDA) menurunkan peringkat kondisi tanaman nasional, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi hasil panen yang lebih rendah akibat cuaca panas dan kering.

Text size
Background

Harga kontrak berjangka jagung di Chicago Board of Trade (CBOT) naik pada hari Selasa, menyusul laporan mingguan dari Departemen Pertanian AS (USDA) yang menunjukkan penurunan kondisi tanaman jagung nasional.

Peringkat Tanaman Menurun

Dalam laporannya yang dirilis pada hari Senin, USDA menurunkan peringkat kondisi tanaman jagung AS. Per hari Minggu, lembaga tersebut mengklasifikasikan 60% tanaman jagung dalam kondisi "baik hingga sangat baik".

Angka ini turun satu poin persentase dari pekan sebelumnya. Penurunan peringkat ini menandakan adanya potensi tekanan pada kesehatan tanaman di tengah musim tanam yang krusial, yang dapat memengaruhi estimasi hasil panen secara keseluruhan.

Dampak Cuaca Kering dan Panas

Kondisi ini sejalan dengan temuan awal dari para ahli pertanian yang melakukan tur tanaman tahunan di negara-negara bagian produsen biji-bijian utama AS. Menurut para ahli yang berpartisipasi dalam tur tersebut, cuaca panas dan kering selama musim panas telah berdampak negatif pada tanaman.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Secara spesifik, di South Dakota, ekspektasi hasil panen jagung diperkirakan lebih rendah dibandingkan tahun lalu dan rata-rata tiga tahun terakhir. Hal ini memperkuat kekhawatiran pasar mengenai dampak cuaca ekstrem terhadap pasokan.

Reaksi Pasar

Menanggapi perkembangan ini, pasar komoditas bereaksi dengan kenaikan harga. Kontrak berjangka jagung untuk pengiriman Desember di CBOT terpantau naik 2-3/4 sen menjadi $4,92-1/4 per bushel.

Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran investor mengenai potensi pengetatan pasokan jika hasil panen akhir di AS lebih rendah dari perkiraan semula. Para pelaku pasar akan terus memantau laporan kondisi tanaman dan data cuaca dalam beberapa minggu mendatang untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.

Back to latest news

LATEST