Story
Harga Jagung Berjangka Naik di Tengah Kekhawatiran Cuaca AS dan Ketegangan Timur Tengah

Harga kontrak berjangka jagung di Chicago Board of Trade (CBOT) ditutup lebih tinggi pada hari Senin, dengan harga sesi sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Kenaikan ini didorong oleh dua faktor utama: prakiraan cuaca yang berpotensi menekan tanaman di Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak mentah akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Rincian Kenaikan Harga
Menurut data penutupan pasar, pergerakan harga kontrak jagung menunjukkan sentimen positif di kalangan investor.
- Kontrak September: Menguat sebesar 1-1/2 sen dan ditutup pada $4,41 per gantang.
- Kontrak Desember (tanaman baru): Naik 2-1/4 sen menjadi $4,63-1/4 per gantang. Kontrak ini bahkan sempat menyentuh level $4,69-1/2, harga tertingginya sejak 2 Juni.
Kenaikan pada kontrak tanaman baru (new-crop) Desember menjadi sinyal bahwa pasar mengantisipasi potensi pengetatan pasokan di masa mendatang.
Faktor Pendorong Utama
Kenaikan harga jagung tidak terlepas dari kombinasi faktor fundamental agrikultur dan geopolitik global yang lebih luas.
AdKekhawatiran Cuaca di AS
Prakiraan cuaca menunjukkan kondisi panas dan sebagian besar kering untuk wilayah barat kawasan 'Corn Belt' AS pada pekan ini, dengan pola serupa berpotensi berlanjut hingga pekan depan. Bulan Juli dianggap sebagai periode kritis bagi jagung karena sebagian besar tanaman memasuki fase penyerbukan, sebuah tahap kunci yang sangat menentukan hasil panen (yield).
Kondisi cuaca yang tidak ideal selama periode ini dapat secara signifikan mengurangi potensi produksi, sehingga memicu kekhawatiran akan pasokan dan mendorong harga lebih tinggi.
Lonjakan Harga Minyak Mentah
Dukungan tambahan datang dari pasar energi, di mana harga minyak mentah melonjak lebih dari 8%. Kenaikan tajam ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran, yang meningkatkan kekhawatiran atas pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
Pasar jagung dan kedelai seringkali mengikuti pergerakan harga minyak mentah karena peran komoditas tersebut sebagai bahan baku utama untuk produksi biofuel. Kenaikan harga minyak membuat biofuel menjadi alternatif yang lebih menarik secara ekonomi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan permintaan terhadap jagung.