Story

China Pangkas Impor Minyak Iran Sebesar 40% Akibat Sanksi AS

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 21, 20261 min read
China Pangkas Impor Minyak Iran Sebesar 40% Akibat Sanksi AS

Summary

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pembelian minyak mentah China dari Iran telah anjlok sekitar 40% dalam beberapa bulan terakhir, menyusul sanksi yang menargetkan kilang-kilang swasta di negara tersebut.

Text size
Background

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent pada hari Selasa menyatakan bahwa China telah mengurangi pembelian minyak mentahnya dari Iran sekitar 40% dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan ini disebut memberikan tekanan signifikan terhadap pendapatan minyak pemerintah Iran.

Sanksi AS Jadi Pemicu

Dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network, Bessent mengungkapkan bahwa AS telah memberlakukan sanksi terhadap kilang-kilang minyak "teapot" di China. Kilang-kilang yang dimiliki oleh pihak swasta ini merupakan pembeli utama minyak mentah dari Iran.

Menurut Bessent, sanksi tersebut telah menyebabkan penurunan substansial dalam pembelian minyak Iran oleh fasilitas-fasilitas ini. Ia juga menambahkan bahwa pembelian minyak mentah China secara keseluruhan memang telah menurun, dipengaruhi oleh harga saat ini dan cadangan minyak strategis negara itu yang besar.

Dampak Terhadap Iran

Sample IUX Markets – In-articleAd

Penurunan tajam dalam pembelian oleh China, salah satu pelanggan terbesarnya, secara langsung menekan keuangan pemerintah Iran. Bessent menegaskan bahwa langkah ini secara signifikan mengurangi pendapatan minyak Teheran, yang merupakan sumber vital bagi perekonomiannya.

Bagi investor dan pasar energi, perkembangan ini dapat memengaruhi dinamika pasokan global dan memberikan tekanan geopolitik lebih lanjut pada Iran. Stabilitas arus minyak dari kawasan tersebut tetap menjadi perhatian utama di pasar komoditas.

Isu Teknologi Kecerdasan Buatan

Secara terpisah, Bessent juga menuduh model kecerdasan buatan (AI) China telah menggabungkan "watermark" dari model bahasa besar (large language models) milik AS. Ia menyebut praktik tersebut "tidak dapat diterima" dan mengatakan pemerintah akan meninjau masalah ini lebih lanjut dalam waktu dekat.

Back to latest news

LATEST