Story
Prospek Carter Dinaikkan Menjadi Stabil oleh Moody's Berkat Peningkatan Penjualan dan Margin.

Summary
Moody's Ratings telah merevisi prospek untuk peritel pakaian anak-anak Carter's menjadi stabil dari negatif, dengan alasan pemulihan penjualan, metrik kredit yang lebih kuat, dan likuiditas yang kuat.
Moody's Ratings telah merevisi prospek The William Carter Company (NYSE: CRI) menjadi stabil dari negatif, menandakan peningkatan kepercayaan pada lintasan keuangan pengecer pakaian anak-anak tersebut. Lembaga tersebut menegaskan peringkat keluarga perusahaan Carter Ba2, dengan menunjukkan pertumbuhan penjualan yang pulih, metrik kredit yang membaik, dan likuiditas yang kuat.
Faktor Pendorong Keuangan Utama
Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti beberapa faktor yang mendukung prospek yang membaik, termasuk inisiatif pengurangan biaya internal dan tarif rata-rata yang lebih rendah akibat keputusan Mahkamah Agung baru-baru ini. Neraca dan posisi likuiditas Carter dicatat sebagai kekuatan khusus.
Poin-poin keuangan utama yang dikutip oleh Moody's meliputi:
- Proyeksi rasio utang terhadap EBITDA sebesar 2,5 kali selama 12 hingga 18 bulan ke depan.
- Cadangan kas yang kuat sebesar $654 juta per Juli 2026, didukung oleh pengembalian tarif sebesar $132 juta.
- Fasilitas kredit bergulir yang belum ditarik sebesar $750 juta, memberikan fleksibilitas keuangan yang signifikan.
AdHambatan dan Prospek Peringkat
Meskipun ada revisi positif, Carter's terus menghadapi pasar yang menantang yang ditandai oleh konsumen yang sadar akan nilai, perlambatan angka kelahiran, dan persaingan yang ketat. Ketergantungan perusahaan yang besar pada pengadaan pakaian dari Asia Tenggara juga menghadirkan risiko terkait potensi fluktuasi kebijakan perdagangan.
Moody's menyatakan bahwa peningkatan peringkat di masa mendatang akan bergantung pada pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, margin operasi dua digit, dan rasio utang tetap di bawah 3,75 kali. Sebaliknya, peringkat dapat menghadapi tekanan baru jika rasio utang melebihi 4,5 kali atau jika kebijakan keuangan yang agresif mengikis cadangan likuiditas perusahaan.