Story
Saham Burberry Anjlok Meski Penjualan Penuhi Target, Pasar Eropa Jadi Pemberat

Summary
Saham Burberry turun tajam setelah merilis laporan kuartalan yang menunjukkan pertumbuhan penjualan sesuai ekspektasi, namun diimbangi oleh kinerja lemah di Eropa akibat konflik Timur Tengah.
Saham Burberry (BRBY) anjlok 4,7% ke level 1.068p dalam perdagangan pagi ini, menyusul rilis Laporan Kinerja Kuartal Pertama untuk tahun fiskal 2027. Meskipun kinerja penjualan sesuai dengan ekspektasi pasar, investor merespons negatif terhadap pelemahan di pasar Eropa yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik.
Kinerja Kuartalan Sesuai Ekspektasi
Dalam laporan untuk 13 minggu yang berakhir pada akhir Juni, Burberry mencatat pertumbuhan penjualan ritel sebanding (*comparable retail sales*) sebesar 5%. Angka ini sejalan dengan konsensus perkiraan analis. Pendapatan ritel perusahaan mencapai £455 juta dengan nilai tukar yang dilaporkan, naik 5% secara tahunan.
Meski demikian, hasil yang sesuai ekspektasi ini tidak memberikan kejutan positif bagi pasar. Analis, seperti dari Barclays, telah memproyeksikan pertumbuhan di angka 5%, sehingga ruang untuk sentimen bullish menjadi terbatas setelah pengumuman tersebut.
Tekanan dari Eropa dan Sentimen Pasar Global
Penyebab utama tekanan pada saham Burberry adalah kinerja yang kontras antar wilayah. Sementara beberapa pasar menunjukkan pertumbuhan yang kuat, kawasan Eropa, Timur Tengah, India, dan Afrika (EMEIA) justru mengalami kontraksi.
- Amerika: Memimpin pertumbuhan dengan kenaikan 12%.
- Tiongkok Raya: Tumbuh 9%, didukung oleh permintaan dari konsumen Gen Z.
- EMEIA: Penjualan terkontraksi sebesar 3%.
AdPerusahaan secara spesifik mengaitkan penurunan di EMEIA dengan berkurangnya belanja turis di Eropa, yang merupakan dampak dari konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Faktor ini telah menjadi tantangan bagi perusahaan selama beberapa kuartal terakhir.
Selain itu, sentimen pasar global yang cenderung *risk-off* turut memperberat saham Burberry. Indeks saham utama AS seperti S&P 500 dan NASDAQ tercatat melemah, memberikan tekanan pada saham-saham di sektor barang konsumsi non-primer (*consumer discretionary*), termasuk barang mewah.
Implikasi bagi Investor
Kombinasi antara hasil yang sudah diantisipasi pasar, kinerja lemah di kawasan EMEIA, dan sentimen global yang negatif mendorong saham Burberry turun secara signifikan. Investor kini terus mengamati dengan cermat upaya pemulihan (*turnaround*) yang dipimpin oleh CEO Joshua Schulman, yang saat ini memasuki tahun kedua.
Dengan penurunan ini, saham Burberry kini diperdagangkan sekitar 22% di bawah level tertingginya dalam 52 minggu terakhir di 1.376,5p. Pasar akan terus memantau apakah perbaikan berurutan di tingkat regional dapat dipertahankan di tengah tantangan makroekonomi dan geopolitik.