Story
Inflasi Australia di Atas Perkiraan, Dolar Australia Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan

Dolar Australia menguat terhadap dolar AS ke level tertinggi dalam tiga bulan pada hari Jumat, didorong oleh data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan yang memicu kembali spekulasi pasar akan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Reserve Bank of Australia (RBA).
Pasangan mata uang AUD/USD diperdagangkan naik sekitar 0,1% ke level $0,72, level terkuatnya sejak 15 Mei. Dengan kenaikan ini, mata uang tersebut berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 0,4%, menandai kenaikan selama lima minggu berturut-turut.
Data Inflasi Memicu Penguatan Aussie
Katalis utama penguatan ini adalah rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Australia untuk bulan Juli yang menunjukkan tekanan harga yang persisten. Angka-angka utama yang dirilis minggu ini meliputi:
- IHK bulanan naik 1,0% dari bulan sebelumnya, melampaui ekspektasi para ekonom sebesar 0,8%.
- Secara tahunan, inflasi melambat menjadi 3,5% dari 3,8% pada bulan sebelumnya.
- Ukuran inflasi inti pilihan RBA, *Trimmed Mean* CPI, naik 0,5% secara bulanan, dengan laju tahunan meningkat menjadi 3,6%.
Angka inflasi inti yang meningkat ini menjadi perhatian khusus bagi pasar, karena ini adalah indikator yang lebih diawasi ketat oleh bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Ekspektasi Pasar dan Dampaknya
AdMenyusul rilis data tersebut, pasar keuangan dengan cepat merevisi ekspektasi mereka terhadap kebijakan RBA. Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan September melonjak dari 17% sebelum data dirilis menjadi sekitar 38%.
Analis di Westpac menyatakan dalam sebuah catatan bahwa data IHK bulanan yang kuat untuk Juli memang meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh RBA pada bulan November. "Namun, kami berpendapat bahwa satu data ini saja tidak cukup untuk membuat pasar sepenuhnya beralih dan mengunci ekspektasi kenaikan suku bunga," tambah mereka.
Konteks Kebijakan RBA
Reserve Bank of Australia telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada awal tahun ini. Namun, pada pertemuan bulan Agustus, dewan gubernur memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (*cash rate*) di level 4,35%.
Dalam pernyataannya, RBA mengindikasikan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan diperkirakan baru akan kembali ke titik tengah kisaran target pada awal tahun 2028. Data inflasi terbaru ini akan menjadi pertimbangan penting bagi RBA dalam pertemuan kebijakan mendatang.