Story
Saham Asia Bervariasi: Reli Chip Imbangi Kekhawatiran Inflasi Akibat Minyak

Saham-saham di Asia diperdagangkan bervariasi pada hari Rabu, karena reli di sektor produsen chip yang didorong oleh optimisme seputar kecerdasan buatan (AI) berhasil mengimbangi kekhawatiran investor terhadap inflasi dan risiko suku bunga yang dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dan ketegangan geopolitik.
Reli Semikonduktor di Tengah Optimisme AI
Sentimen positif di sektor teknologi, khususnya semikonduktor, memberikan dorongan signifikan bagi beberapa bursa regional. Indeks KOSPI Korea Selatan naik 1,5%, sementara Nikkei 225 Jepang menguat 0,14%. Penguatan ini dipimpin oleh saham-saham seperti:
- SK Hynix yang melonjak 3,6%
- Samsung Electronics yang naik 0,8%
- TDK yang menguat 1,86%
Reli ini mengikuti tren di pasar AS, di mana Philadelphia Semiconductor Index naik 1,3% pada hari Selasa. Saham Intel dan Qualcomm juga melonjak setelah mengumumkan kesepakatan dengan Amazon untuk mengembangkan chip AI khusus. Antusiasme terhadap infrastruktur AI ini kontras dengan pelemahan pada saham perangkat lunak tradisional, yang tertekan oleh kekhawatiran disrupsi dari teknologi AI generatif baru.
Harga Minyak dan Inflasi Menjadi Pemberat
AdDi sisi lain, kekhawatiran makroekonomi membatasi kenaikan pasar yang lebih luas. Harga minyak mentah Brent mendekati level $100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, setelah naik lebih dari 60% sepanjang tahun ini. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan terhadap kota-kota Arab Saudi dan kapal tanker.
Kenaikan harga energi ini memperbarui kekhawatiran tentang inflasi yang persisten, yang dapat mendorong bank sentral seperti Federal Reserve AS untuk mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat. Akibatnya, beberapa bursa di kawasan ini melemah, termasuk Hang Seng Hong Kong yang turun 0,2% dan S&P/ASX 200 Australia yang terkoreksi 0,2%.
Fokus pada Data dan Kebijakan Moneter
Investor kini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada hari Jumat, yang akan menjadi faktor kunci bagi keputusan suku bunga The Fed pada pertemuan 15-16 September. Pasar saat ini memperkirakan sekitar 60% kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Dari sisi data ekonomi regional, PDB Korea Selatan tumbuh 0,6% secara kuartalan pada kuartal kedua, melampaui ekspektasi berkat ekspor semikonduktor. Sementara itu, data inflasi dari Tiongkok menunjukkan IHK Agustus naik 0,8% secara tahunan, didorong oleh biaya energi, meskipun inflasi inti yang lemah mengindikasikan permintaan domestik yang masih lesu.