Story
Trump Ancam Tarif 50% ke Kanada, Pasar Global Terbelah Antara Risiko Dagang dan Laba Teknologi

Summary
Donald Trump menghidupkan kembali perang dagang dengan ancaman tarif 50% terhadap impor Kanada senilai $20 miliar, sementara pasar saham global mendapat dorongan dari penurunan harga minyak dan antisipasi laporan laba raksasa teknologi Alphabet.
Mantan Presiden AS Donald Trump kembali memanaskan sentimen perdagangan global dengan menyatakan akan menerapkan tarif 50% terhadap impor dari Kanada senilai $20 miliar bulan depan. Langkah ini membayangi sentimen pasar yang di sisi lain tengah menantikan musim laporan laba perusahaan teknologi besar.
Ancaman Perang Dagang Kembali Muncul
Menurut pernyataan Trump, tarif baru ini akan menargetkan sekitar 5% dari total ekspor Kanada ke selatan perbatasannya, mencakup barang-barang seperti anggur, semen, dan pakaian. Kebijakan proteksionis ini membuka kembali front perang dagang regional yang sempat mereda.
Menanggapi ancaman tersebut, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan bahwa pihaknya akan menggandakan upaya negosiasi untuk menyelesaikan masalah ini. Perkembangan ini menempatkan investor dalam posisi waspada terhadap potensi eskalasi ketegangan dagang di Amerika Utara.
Pasar Pantau Laba Teknologi dan Harga Minyak
Di tengah risiko dagang, pasar menemukan sentimen positif dari penurunan harga minyak mentah. Harga minyak Brent turun di bawah $90 per barel pada hari Senin menyusul laporan adanya upaya mediasi dalam konflik Timur Tengah, meskipun ketegangan masih berlanjut. Penurunan harga minyak ini cukup untuk memicu reli di bursa saham Asia, dengan indeks di Tokyo dan Seoul menguat pada hari Selasa, sementara kontrak berjangka AS juga berada di wilayah positif.
AdFokus pasar kini juga tertuju pada laporan keuangan raksasa teknologi, dengan Alphabet (GOOGL) yang dijadwalkan akan melaporkan kinerjanya pada hari Rabu. Ekspektasi pasar cukup tinggi, dengan proyeksi pendapatan keseluruhan naik 21% menjadi $117 miliar dan pertumbuhan pendapatan dari segmen *cloud* mencapai 64%.
Perkembangan Politik di Inggris
Dari Eropa, Perdana Menteri Inggris yang baru, Andy Burnham, secara mengejutkan menunjuk mantan menteri pertahanan John Healey sebagai Menteri Keuangan barunya. Penunjukan ini memicu spekulasi bahwa belanja pertahanan mungkin akan dikecualikan dari aturan fiskal yang berlaku di negara tersebut.
Selain itu, tim Burnham mengumumkan rencana untuk memotong pajak harga listrik, yang akan didanai dengan membatalkan program KTP digital. Kebijakan ini berpotensi membantu menekan inflasi Inggris di akhir tahun, sehingga mengurangi tekanan bagi Bank of England untuk memperketat kebijakan moneternya.