Story
Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Naik karena Para Pedagang Meningkatkan Taruhan pada Kenaikan Suku Bunga Fed Lainnya

Summary
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik pada hari Selasa, dengan obligasi 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan mencapai level tertinggi baru dalam dua tahun terakhir, karena pasar memperkirakan peluang lebih dari 50% untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve lagi pada bulan Oktober.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik pada hari Selasa karena investor mempertimbangkan sinyal hawkish dari Federal Reserve terhadap penurunan harga minyak, yang menyebabkan peningkatan taruhan pada pengetatan moneter lebih lanjut.
Imbal Hasil Jangka Pendek Mencapai Rekor Tertinggi Baru
Imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka waktu 2 tahun, yang sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan Federal Reserve, mencapai rekor tertinggi baru dalam dua tahun terakhir sebesar 4,7879%. Pergerakan ini menggarisbawahi keyakinan pasar yang semakin besar bahwa bank sentral akan terus memerangi inflasi.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka waktu 10 tahun juga sedikit naik. Imbal hasil obligasi tersebut tetap di bawah ambang batas 5% setelah menyentuh 5,041% minggu lalu, level yang belum pernah terlihat sejak tahun 2007, menurut laporan sumber.
Probabilitas Kenaikan Suku Bunga Fed Meningkat
AdPergerakan pasar obligasi didorong oleh ekspektasi bahwa Fed akan memberlakukan kenaikan suku bunga lagi setelah kenaikan minggu lalu, yang pertama sejak 2023. Menurut alat CME FedWatch, para pedagang sekarang memperkirakan probabilitas 53% kenaikan suku bunga lagi pada pertemuan Fed bulan Oktober mendatang.
Ekspektasi ini diperkuat oleh komentar publik dari Presiden Fed Boston, Susan Collins. Pada hari Selasa, Collins menyatakan dukungannya terhadap keputusan bank sentral baru-baru ini untuk menaikkan suku bunga, dengan alasan risiko bahwa inflasi dapat tetap di atas target 2% Fed.
Konteks Pasar
Investor juga memantau pasar komoditas, di mana harga minyak turun tetapi pulih dari titik terendah sesi. Sumber tersebut mencatat bahwa lonjakan harga baru-baru ini, yang terkait dengan ketegangan geopolitik, telah memicu kekhawatiran tentang inflasi yang terus-menerus dan potensi kenaikan suku bunga untuk mengatasinya.