Story
Demam Saham Korea Selatan Ungkap Bahaya Pinjaman Margin bagi Investor Ritel

Summary
Saldo pinjaman margin di Korea Selatan mencapai rekor tertinggi, memicu kekhawatiran regulator atas risiko yang dihadapi investor ritel di tengah volatilitas pasar yang ekstrem.
Investor ritel di Korea Selatan semakin banyak menggunakan pinjaman margin untuk memperbesar keuntungan di pasar saham, sebuah tren yang mendorong total utang investor ke level rekor dan memicu kekhawatiran regulator mengenai risiko sistemik.
Lonjakan Utang Investor
Data dari Korea Financial Investment Association menunjukkan saldo pinjaman margin di pasar saham domestik mencapai rekor tertinggi 38,63 triliun won pada 24 Juni, sebelum sedikit turun menjadi 34,37 triliun won pada 15 Juli. Secara lebih luas, data Bank of Korea mencatat total utang investor, yang mencakup bentuk pinjaman lainnya, melampaui 60 triliun won pada akhir Mei.
Lonjakan ini bertepatan dengan periode volatilitas ekstrem di indeks Kospi. Setelah sempat menjadi indeks saham dengan kinerja terbaik di dunia dengan kenaikan lebih dari dua kali lipat dalam enam bulan, Kospi beberapa kali anjlok lebih dari 10% hanya dalam hitungan minggu, meningkatkan risiko likuidasi paksa bagi investor yang menggunakan leverage tinggi.
Kisah Untung dan Rugi Spektakuler
AdKisah Lee Seung-ho, seorang mahasiswa berusia 24 tahun, menjadi contoh nyata dari risiko ini. Dengan modal awal 20 juta won, ia menggunakan pinjaman margin dengan leverage lima kali lipat untuk membangun portofolio saham senilai hampir 300 juta won ($202.515). Namun, seluruh keuntungannya lenyap hanya dalam empat minggu pada bulan Mei akibat gejolak pasar yang memicu likuidasi paksa oleh brokernya.
Meski mengalami kerugian besar yang membuatnya merasa "benar-benar tidak bisa bernapas", Lee berencana untuk kembali meminjam dan masuk ke pasar. Bagi banyak anak muda Korea Selatan, leverage tinggi di pasar saham dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk mengakumulasi kekayaan di tengah meroketnya harga properti di Seoul, yang rata-rata membutuhkan gaji selama 14 tahun untuk membeli sebuah apartemen.
Respons Regulator
Menanggapi demam spekulatif ini, otoritas keuangan Korea Selatan mengumumkan larangan penerbitan produk ETF (exchange-traded fund) dengan leverage baru yang terkait dengan saham tunggal. Langkah ini diambil hanya dua bulan setelah regulator menyetujui produk tersebut.
Inki Cho, seorang ahli strategi pasar keuangan senior di Exness, menyebut langkah ini sebagai "koreksi atas kesalahan kebijakan yang diakui". Menurutnya, Gubernur Financial Supervisory Service (FSS) telah mengakui bahwa produk-produk tersebut disetujui terlalu tergesa-gesa. "Bagi investor ritel yang memegang produk ini, risikonya tidak simetris: leverage mempercepat kerugian saat pasar turun jauh lebih cepat daripada membangun kekayaan saat pasar naik dalam kondisi yang fluktuatif seperti ini," jelasnya.