Story
Won Korea Selatan Jadi Mata Uang Asia Berkinerja Terbaik Sepanjang 2026

Won Korea Selatan (KRW) tampil sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di Asia sepanjang tahun 2026, mengungguli mata uang regional lainnya di tengah tekanan ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Penguatan signifikan ini ditopang oleh kombinasi kuat antara momentum ekspor semikonduktor dan kebijakan moneter yang semakin ketat dari Bank of Korea.
Kinerja Unggul di Tengah Tekanan Dolar
Berdasarkan data pasar per 3 September 2026, pasangan kurs USD/KRW telah turun 5,68% secara *year-to-date* (YTD), yang mengindikasikan penguatan won terhadap dolar AS. Kinerja ini kontras dengan sebagian besar mata uang Asia lainnya yang justru melemah.
Sebagai perbandingan, beberapa mata uang regional yang berkinerja lebih lemah meliputi:
- Rupiah Indonesia (IDR): Melemah 6,03% YTD terhadap USD.
- Peso Filipina (PHP): Melemah 6,13% YTD terhadap USD.
- Rupee India (INR): Melemah 4,92% YTD terhadap USD.
Di sisi lain, yuan Tiongkok (CNY) dan dolar Singapura (SGD) juga mencatatkan penguatan, masing-masing sebesar 3,94% dan 1,29% YTD, menempatkan mereka di belakang won Korea Selatan.
Kombinasi Ekspor dan Kebijakan Moneter
AdKekuatan won didorong oleh dua faktor fundamental utama. Pertama adalah momentum ekspor yang solid, terutama dari sektor teknologi. Ekspor Korea Selatan dilaporkan melonjak 68,7% secara tahunan (*year-over-year*) pada bulan Agustus, menghasilkan surplus perdagangan sebesar $34,75 miliar. Permintaan yang tinggi untuk semikonduktor dan produk terkait kecerdasan buatan (AI) menjadi penopang utama.
Faktor kedua adalah kebijakan moneter yang suportif. Bank of Korea (BOK) menaikkan suku bunga acuannya ke level 3,00% pada 27 Agustus, yang merupakan kenaikan kedua secara berturut-turut. Langkah *hawkish* ini diambil untuk merespons inflasi yang mencapai 3,1% pada Agustus, dan berpotensi memberikan dukungan lebih lanjut bagi won, meskipun dapat menekan konsumsi domestik.
Prospek dan Risiko ke Depan
Ke depan, prospek mata uang Asia, termasuk won, masih sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan The Federal Reserve AS. Pasar saat ini memperkirakan probabilitas 61%–67% untuk kenaikan suku bunga Fed pada bulan September, yang dapat menjadi hambatan jangka pendek. Namun, apresiasi yuan Tiongkok yang bertahap dapat memberikan sinyal stabilitas bagi mata uang di kawasan tersebut.
Reli won dianggap lebih kredibel karena didukung oleh perbaikan fundamental neraca eksternal Korea Selatan, bukan sekadar pelemahan dolar. Meskipun demikian, ketergantungannya yang tinggi pada ekspor teknologi juga menjadikannya rentan terhadap potensi perlambatan dalam siklus permintaan semikonduktor global atau meningkatnya tensi geopolitik.