Story
Poundsterling Menguat Saat Dolar AS Melemah Akibat Data Ketenagakerjaan yang Mengecewakan

Summary
Poundsterling dan euro menguat terhadap dolar AS pada hari Jumat, setelah laporan data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menghentikan siklus pengetatan kebijakannya.
Poundsterling diperdagangkan lebih tinggi pada hari Jumat, sementara euro juga mengalami kenaikan terhadap dolar AS yang melemah secara luas. Pelemahan ini terjadi setelah rilis laporan data ketenagakerjaan AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan, yang memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve telah selesai dengan siklus pengetatan kebijakan moneternya. Pasangan mata uang GBP/USD naik menjadi $1,3360, sementara EUR/USD naik ke $1,1455.
Menurut analisis dari Francesco Pesole, ahli strategi valas di ING, laporan pekerjaan AS menunjukkan kenaikan payroll sebesar 57.000, namun angka ini dibayangi oleh revisi ke bawah sebesar 74.000 untuk data dua bulan sebelumnya. Pesole juga mencatat bahwa penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,2% merupakan "tanda yang tidak menggembirakan" karena sebagian besar didorong oleh tingkat partisipasi angkatan kerja yang lebih rendah.
Laporan ini dinilai membuat pasar lebih sulit untuk mengharapkan dua kali pemotongan suku bunga oleh The Fed, tetapi datanya belum cukup lemah untuk memicu perubahan kebijakan yang signifikan. ING memperkirakan indeks dolar akan stabil di kisaran 100-101,5 dalam beberapa minggu mendatang. Pelaku pasar kini menantikan data inflasi AS pada 14 Juli sebagai acuan penting berikutnya untuk arah kebijakan suku bunga.
AdKenaikan poundsterling kali ini tidak didorong oleh fundamental domestik Inggris. Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, baru-baru ini menyatakan bahwa ekonomi Inggris berada dalam "fase lesu". Sementara itu, kenaikan euro juga terbatas oleh narasi yang memudar mengenai kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Bank Sentral Eropa (ECB) di tengah data inflasi yang lebih lunak.