Story
Harga Minyak Melonjak 4% Dipicu Serangan Iran dan Penurunan Stok AS

Summary
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 4% karena serangan rudal balistik Iran terhadap pasukan AS menghidupkan kembali kekhawatiran pasokan, sementara laporan industri menunjukkan penarikan tajam dalam persediaan minyak AS.
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 4% pada hari Rabu, membalikkan pelemahan tajam dalam beberapa sesi terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik ke pasukan AS, yang menghidupkan kembali kekhawatiran akan gangguan pasokan regional.
Pada pukul 20:47 ET (00:47 GMT), harga minyak mentah berjangka Brent naik 4,2% menjadi $87,62 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,1% ke level $82,49 per barel.
Eskalasi Geopolitik Picu Kekhawatiran Pasokan
Fokus pasar kembali tertuju pada Timur Tengah setelah Iran meluncurkan beberapa rudal balistik yang menargetkan pasukan AS di wilayah tersebut. Meskipun U.S. Central Command menyatakan semua rudal berhasil dicegat, serangan itu menandai eskalasi baru setelah beberapa hari yang relatif tenang dan memperkuat kekhawatiran investor akan potensi konflik yang lebih luas.
Perkembangan ini memudarkan optimisme pasar sebelumnya, yang berharap upaya diplomatik dapat meredakan ketegangan. Menurut analis ANZ, upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz juga terhenti, sementara ancaman terhadap infrastruktur energi regional tetap ada setelah Arab Saudi melaporkan pencegatan drone dan rudal yang menargetkan fasilitas minyaknya.
Penurunan Stok AS dan Spekulasi OPEC+ Dukung Harga
AdSelain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari data fundamental. Laporan dari American Petroleum Institute (API) memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 3,3 juta barel pada minggu lalu, menandakan permintaan yang tetap kuat menjelang rilis data resmi pemerintah.
Sentimen positif juga didukung oleh laporan bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) sedang mempertimbangkan untuk menunda rencana kenaikan produksi lebih lanjut selama tiga bulan mulai Oktober. Langkah ini, jika terwujud, akan membantu menjaga pasokan tetap ketat.
Konteks Pasar
Reli harga ini terjadi setelah aksi jual tajam selama tiga hari yang membuat harga WTI anjlok sekitar 15% dari puncaknya. Pelemahan sebelumnya didorong oleh harapan bahwa upaya diplomatik dapat meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran, yang mendorong para pedagang untuk melepas posisi beli mereka.