Story
Harga Minyak Melonjak di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran di Selat Hormuz

Harga minyak naik ke level tertinggi dalam satu bulan pada hari Rabu setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Eskalasi ini dipicu oleh pemberlakuan kembali blokade laut oleh AS terhadap semua pelabuhan Iran dan serangan balasan dari Teheran terhadap infrastruktur AS di kawasan tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran signifikan terhadap gangguan pasokan minyak global.
Eskalasi Militer Memicu Kekhawatiran Pasokan
Menurut laporan Reuters, ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi pemberlakuan blokade laut. Sebagai balasan, militer Iran pada hari Rabu pagi menyatakan telah melancarkan serangan drone terhadap posisi AS di pangkalan Azraq, Yordania. Selain itu, Garda Revolusi Islam Iran mengklaim telah menargetkan fasilitas senjata dan penyimpanan di Bahrain dan Kuwait.
Militer AS menyatakan bahwa mereka juga telah memulai serangan baru "untuk terus menurunkan kapabilitas Iran yang digunakan untuk menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz." Akibatnya, Teheran mengklaim telah kembali menutup selat strategis tersebut, yang sebelum konflik merupakan jalur transit bagi sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Dampak pada Pasar Energi
Reaksi pasar tidak terhindarkan, dengan harga minyak melanjutkan kenaikannya untuk sesi kedua berturut-turut. Ini mendorong harga ke level tertinggi sejak pertengahan Juni.
Ad- Minyak mentah Brent naik $1,46, atau 1,72%, menjadi $86,19 per barel pada pukul 00:29 GMT.
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik $1,11, atau 1,4%, menjadi $80,40 per barel.
Kenaikan harga ini mencerminkan premi risiko yang kembali disematkan oleh investor akibat potensi gangguan pasokan yang signifikan jika Selat Hormuz tetap ditutup atau jika infrastruktur energi di Teluk rusak.
Analisis dan Prospek ke Depan
Analis memperingatkan bahwa volatilitas harga akan tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik berlanjut. Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, menyatakan bahwa ada kemungkinan harga minyak bergerak kembali ke arah $100 per barel dalam waktu dekat jika permusuhan meningkat dan merusak infrastruktur energi.
Namun, ia juga mencatat bahwa jika upaya diplomatik berhasil membuka kembali selat tersebut, harga Brent dapat bertahan di kisaran $75-$80 per barel. "Untuk saat ini, premi risiko masih melekat, tetapi ini bukan taruhan satu arah mengingat masih ada insentif bagi kedua belah pihak untuk menemukan solusi diplomatik," kata Waterer.