Story
Harga Minyak Naik karena Trump Membantah Laporan tentang Pelonggaran Sanksi terhadap Iran

Summary
Harga minyak mentah berjangka naik setelah mantan Presiden AS Donald Trump menolak laporan yang menunjukkan bahwa ia akan melonggarkan sanksi terhadap Iran, mengimbangi tanda-tanda pemulihan pasokan dari Timur Tengah. Penolakan tersebut memperketat prospek pasokan global, mendorong harga minyak mentah Brent di atas $103 per barel.
Harga minyak naik pada hari Rabu setelah mantan Presiden AS Donald Trump membantah laporan bahwa ia mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi terhadap Iran, mengurangi harapan kembalinya minyak mentah Iran ke pasar global. Berita ini membalikkan kerugian sebelumnya yang disebabkan oleh tanda-tanda pemulihan pasokan di Timur Tengah.
Pada pukul 01.31 GMT, harga minyak mentah Brent telah naik $1,14, atau 1,11%, menjadi $103,73 per barel, menurut data Reuters. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 34 sen, atau 0,38%, menjadi $89,72 per barel. Kenaikan ini menempatkan Brent pada jalur kenaikan bulanan sekitar 14%.
Spekulasi Sanksi Diredam
Pendorong utama kenaikan harga adalah pernyataan dari Trump yang membantah laporan Axios bahwa ia bersedia menawarkan keringanan sanksi sebagai imbalan atas langkah-langkah Teheran terkait program nuklirnya. "Ini tidak benar. Saya tidak menawarkan apa pun kepada mereka," tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Penolakan ini mempersulit upaya diplomatik yang sedang berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa bahwa negaranya sedang bertukar pesan antara AS dan Iran untuk "membangun landasan bersama." Sikap tegas Trump menunjukkan bahwa terobosan diplomatik yang dapat melepaskan pasokan minyak Iran masih jauh.
Pergeseran Gambaran Pasokan
Harga sebelumnya telah melunak karena berita tentang peningkatan aliran minyak mentah dari Timur Tengah. Arab Saudi melanjutkan pemuatan kapal tanker minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah memulai kembali operasi di Pipa Timur-Baratnya. Ini berkontribusi pada peningkatan ekspor regional.
Ad- Ekspor minyak mentah dari produsen Timur Tengah pada bulan September mencapai 16,328 juta barel per hari, level tertinggi sejak akhir Februari, menurut laporan tersebut.
"Bukti lebih lanjut tentang pulihnya aliran melalui Selat Hormuz...telah menyebabkan harga sedikit turun," kata Saul Kavonic, kepala riset energi di MST Marquee, yang juga mencatat bahwa situasinya "tetap bergejolak."
Persediaan AS Menambah Ketidakpastian
Di pasar AS, data persediaan awal menambah lapisan kompleksitas. Menurut sumber pasar yang mengutip American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah AS secara tak terduga naik sebesar 1,02 juta barel minggu lalu.
Peningkatan ini kontras dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters, yang memperkirakan penurunan persediaan minyak mentah. Investor sekarang menunggu data resmi dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA), yang akan dirilis pukul 10:30 pagi EDT, untuk gambaran yang lebih jelas tentang permintaan domestik.