Story
IHSG Ditutup Melemah 0,68% Tertekan Sektor Infrastruktur dan Keuangan

Summary
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Senin, terbebani oleh pelemahan di sektor infrastruktur, keuangan, dan agrikultur di tengah anjloknya harga minyak mentah global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,68% pada akhir sesi perdagangan hari Senin, tertekan oleh kinerja negatif di sejumlah sektor utama. Pelemahan ini terjadi seiring dengan koreksi tajam pada harga komoditas energi global.
Rincian Kinerja Pasar
Berdasarkan data dari Investing.com, tekanan jual pada IHSG terutama dipicu oleh pelemahan di sektor Infrastruktur, Keuangan, dan Agrikultur. Sentimen negatif ini tercermin pada data perdagangan secara keseluruhan di Bursa Efek Indonesia.
Statistik pasar menunjukkan bahwa jumlah saham yang mengalami penurunan lebih mendominasi dibandingkan yang menguat. Sebanyak 394 saham ditutup melemah, sementara 272 saham berhasil menguat dan 169 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Saham Unggulan dan Pecundang
Di tengah koreksi pasar, beberapa saham justru mencatatkan kenaikan signifikan. Sebaliknya, sejumlah saham lainnya mengalami tekanan jual yang dalam.
Ad- Saham dengan Kenaikan Tertinggi (Top Gainers): PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) melonjak 35,00%, diikuti oleh PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) yang naik 34,55%, dan PT Nusantara Voucher Distribution Tbk (DIVA) yang menguat 30,09%.
- Saham dengan Penurunan Terdalam (Top Losers): PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN) anjlok 14,09%, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) turun 10,11%, dan PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS) terkoreksi 9,60%.
Perlu dicatat, kenaikan harga saham BAJA membawanya ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, menurut data sesi tersebut.
Konteks Pasar Global
Sentimen investor juga dipengaruhi oleh pergerakan di pasar komoditas dan valuta asing. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September anjlok 6,38% menjadi $83,61 per barel, sementara minyak Brent turun 6,10% ke level $86,09 per barel.
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah terpantau melemah terhadap dolar AS, dengan pasangan mata uang USD/IDR naik 0,63% ke level 18.020,90. Sementara itu, Indeks Dolar AS Berjangka, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, justru turun tipis 0,19% ke 101,11.