Story
Saham Goldman Sachs Melonjak Berkat Laba Kuartalan yang Pecahkan Rekor

Summary
Saham bank investasi tersebut melonjak setelah melaporkan pendapatan dan laba kuartal kedua yang secara signifikan melampaui ekspektasi analis, didorong oleh kinerja luar biasa di divisi trading ekuitas dan perbankan investasi.
Saham Goldman Sachs (GS) melonjak tajam setelah bank investasi tersebut membukukan hasil kuartalan terkuat dalam sejarahnya, dengan laba yang menghancurkan estimasi konsensus analis sekitar 45%. Kinerja ini didorong oleh rekor pendapatan dari divisi trading dan lonjakan aktivitas perbankan investasi, yang mendorong sahamnya ke level tertinggi baru dalam 52 minggu.
Laba Jauh di Atas Ekspektasi
Goldman Sachs melaporkan pendapatan bersih kuartal kedua 2026 sebesar $20,34 miliar. Laba per saham (EPS) mencapai $20,98, hampir dua kali lipat dari $10,91 yang diperoleh pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka EPS ini secara signifikan melampaui perkiraan konsensus analis yang berada di level $14,48. Kinerja yang kuat ini juga tercermin dari Aset dalam Pengawasan (Assets under Supervision) yang mencapai rekor $4,04 triliun, didukung oleh arus masuk bersih jangka panjang sebesar $91 miliar.
Trading Ekuitas dan M&A Jadi Pendorong Utama
Kinerja cemerlang perusahaan terutama didorong oleh dua segmen utama. Divisi trading ekuitas menjadi bintang utama dengan menghasilkan pendapatan $7,42 miliar, sebuah lompatan 72% dari tahun ke tahun. Laporan tersebut mencatat ini sebagai rekor sepanjang masa untuk bank mana pun secara global untuk kuartal ketiga berturut-turut.
AdSementara itu, pendapatan dari biaya perbankan investasi naik 55% menjadi $3,4 miliar. Menurut CEO David Solomon, pertumbuhan ini dipicu oleh percepatan tajam dalam aktivitas merger dan akuisisi (M&A), di mana volume M&A korporat skala besar naik 90% sepanjang paruh pertama tahun 2026.
Sentimen Positif dari Dividen dan Data Ekonomi
Untuk menambah sentimen bullish, dewan direksi Goldman menyetujui kenaikan dividen kuartalan sebesar 11% menjadi $5,00 per saham. Perusahaan juga mengembalikan modal sebesar $5,36 miliar kepada pemegang saham melalui pembelian kembali saham dan dividen, menandakan kepercayaan pada posisi permodalannya.
Iklim makroekonomi turut memberikan angin segar. Data inflasi CPI bulan Juni yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Optimisme di sektor keuangan juga diperkuat oleh laporan laba yang solid dari para pesaingnya, seperti JPMorgan dan Wells Fargo, yang turut melampaui estimasi.