Story

Dolar AS Melemah di Tengah Turunnya Harga Minyak dan Notulen Fed yang Kurang Agresif

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 13, 20262 min read
Dolar AS Melemah di Tengah Turunnya Harga Minyak dan Notulen Fed yang Kurang Agresif
Text size
Background

Dolar AS melemah pada hari Kamis, tertekan oleh meredanya kekhawatiran inflasi seiring dengan penurunan harga minyak dan rilis risalah rapat Federal Reserve yang menunjukkan pandangan yang tidak seagresif perkiraan pasar. Indeks Dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun tipis ke level 100,96.

Risalah The Fed Tunjukkan Perdebatan Seimbang

Risalah dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni mengindikasikan adanya perdebatan yang seimbang di antara para pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga. Meskipun beberapa peserta rapat melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga saat itu juga, sebagian besar peserta juga menunjuk pada skenario di mana inflasi akan kembali ke target 2% dengan sendirinya.

Menurut Michael Feroli, kepala ekonom AS di JPMorgan, risalah tersebut memang bernada *hawkish*, namun tidak mengejutkan mengingat *dot plot* yang dirilis tiga minggu sebelumnya. Pasar menafsirkan perdebatan yang terbagi ini sebagai sinyal bahwa kenaikan suku bunga di masa depan mungkin tidak secepat yang dikhawatirkan sebelumnya.

Dinamika Harga Minyak dan Geopolitik

Faktor utama yang menekan dolar adalah penurunan harga minyak mentah. Pelemahan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran "sangat ingin membuat kesepakatan," meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya sempat mendorong harga minyak naik.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi, yang pada gilirannya memberi The Fed lebih banyak ruang untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga. Thierry Wizman, ahli strategi FX dan suku bunga global di Macquarie, menyatakan bahwa jika harga minyak tidak naik lebih lanjut, Ketua The Fed Kevin Warsh kemungkinan akan mengurangi nada *hawkish*-nya. Wizman memprediksi kenaikan suku bunga berikutnya bisa terjadi pada bulan September atau Oktober, tergantung pada pergerakan harga minyak.

Pergerakan Mata Uang Utama Lainnya

Di pasar mata uang lainnya, beberapa pergerakan penting juga tercatat:

  • Yuan China: Mata uang China menguat terhadap dolar, dengan pasangan USD/CNY turun 0,1% ke 6,7921. Penguatan ini terjadi meskipun data inflasi China beragam, di mana Indeks Harga Produsen (IHP) naik 4,1% secara tahunan pada bulan Juni, sementara Indeks Harga Konsumen (IHK) melambat menjadi 1,0%.
  • Yen Jepang: Yen juga mencatat penguatan yang jarang terjadi terhadap dolar, dengan pasangan USD/JPY turun 0,1% ke 162,40. Meskipun demikian, yen masih berada di dekat level terendah dalam 40 tahun terakhir dan tetap di atas level 160, ambang batas yang sebelumnya memicu intervensi dari otoritas Jepang.
Back to latest news

LATEST