Story
Harga Gandum CBOT Sentuh Level Tertinggi 6 Minggu Jelang Laporan USDA

Harga gandum berjangka di Chicago Board of Trade (CBOT) naik ke level tertinggi dalam enam minggu pada perdagangan Jumat. Kenaikan ini didorong oleh aksi penyesuaian posisi oleh para pedagang menjelang rilis laporan tanaman bulanan yang krusial dari Departemen Pertanian AS (USDA).
Rincian Kenaikan Harga
Kontrak gandum CBOT secara umum menguat antara 12 hingga 14 sen per gantang. Kenaikan ini mencerminkan optimisme pasar dan strategi lindung nilai menjelang publikasi data penting yang dapat mempengaruhi fundamental pasokan dan permintaan.
- Gandum lunak merah musim dingin (Soft Red Winter) untuk pengiriman September terakhir naik 13-1/4 sen menjadi $6,33 per gantang.
- Gandum keras merah musim dingin (Hard Red Winter) K.C. untuk pengiriman September menguat 15-3/4 sen ke level $6,70 per gantang.
- Gandum musim semi (Spring Wheat) Minneapolis untuk pengiriman September naik 9-1/2 sen menjadi $6,48-1/2 per gantang.
Antisipasi Laporan USDA dan Proyeksi Global
Fokus utama pasar tertuju pada laporan USDA yang dijadwalkan rilis pada pukul 12.00 siang waktu setempat (EDT). Berdasarkan jajak pendapat analis yang dikutip oleh Reuters, USDA diperkirakan akan memangkas estimasi stok akhir gandum AS untuk musim 2026-27 menjadi 714 juta gantang, turun dari proyeksi 744 juta gantang pada bulan Juni. Proyeksi stok yang lebih rendah mengindikasikan pasokan yang lebih ketat, yang secara teori mendukung kenaikan harga.
AdSentimen pengetatan pasokan juga datang dari Eropa. Asosiasi perdagangan biji-bijian Coceral telah mengurangi perkiraan produksi gandum lunak di Uni Eropa dan Inggris sebesar 2% akibat kondisi cuaca panas yang merugikan tanaman.
Konteks Pasar dan Risiko Geopolitik
Di luar faktor fundamental tanaman, para pedagang juga terus memantau perkembangan geopolitik, terutama potensi eskalasi perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua negara merupakan eksportir biji-bijian utama di dunia.
Setiap peningkatan ketegangan di kawasan Laut Hitam berisiko mengganggu rantai pasokan global dan dapat memberikan tekanan kenaikan lebih lanjut pada harga komoditas pangan. Oleh karena itu, faktor risiko ini tetap menjadi pertimbangan penting bagi para pelaku pasar.