Story

Saham Asia Melemah Ditekan Harga Minyak dan Samsung, Reli Chip Jepang Batasi Kerugian

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 9, 20261 min read
Saham Asia Melemah Ditekan Harga Minyak dan Samsung, Reli Chip Jepang Batasi Kerugian

Summary

Sebagian besar bursa saham Asia melemah pada hari Kamis akibat kenaikan harga minyak dan kekecewaan atas laba Samsung. Namun, reli saham-saham semikonduktor di Jepang membantu membatasi kerugian yang lebih dalam di kawasan tersebut.

Text size
Background

Sebagian besar pasar saham Asia bergerak turun pada hari Kamis, terbebani oleh meningkatnya harga minyak di tengah ketegangan militer AS-Iran yang kembali memanas dan dampak lanjutan dari laporan laba Samsung Electronics yang mengecewakan. Sentimen investor yang berhati-hati juga dipengaruhi oleh penutupan bursa Wall Street yang beragam semalam, setelah risalah rapat Federal Reserve mengonfirmasi sikap kebijakan yang waspada.

Sektor semikonduktor menunjukkan pergerakan yang kontras. Di Korea Selatan, indeks KOSPI turun hampir 1,8%, melanjutkan tren pelemahan. Saham Samsung Electronics merosot 2,5% setelah sebelumnya anjlok, sementara SK Hynix Inc berhasil pulih dan naik 3,5%. Kekecewaan investor atas laba Samsung, yang meskipun melonjak signifikan namun masih di bawah ekspektasi tinggi, terus menekan pasar Korea Selatan.

Di sisi lain, Jepang menjadi pasar dengan kinerja terbaik di kawasan itu. Indeks Nikkei 225 naik sekitar 1,5% dan TOPIX menguat 0,5%, didukung oleh aksi beli baru pada saham-saham pemasok chip. Saham seperti Murata Mfg Co dan TDK Corp mencatatkan kenaikan, menunjukkan pemulihan setelah aksi jual yang terjadi di awal pekan.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Di tempat lain, bursa saham utama lainnya di kawasan ini juga melemah. Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,8%, Shanghai Composite Tiongkok kehilangan 0,6%, dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,7%. Para investor kini menantikan rilis data inflasi Tiongkok bulan Juni untuk petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi negara tersebut.

Sentimen pasar secara umum tetap terkendali karena investor mencermati risiko geopolitik dan inflasi. Serangan militer AS yang baru terhadap infrastruktur militer Iran mendorong kenaikan harga minyak, menambah kekhawatiran inflasi. Selain itu, risalah rapat The Fed menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih khawatir terhadap risiko inflasi yang dapat bertahan lama, yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.

Back to latest news

LATEST