Story
Tujuh Anggota Inti OPEC+ Sepakat Naikkan Kuota Produksi Minyak untuk September

Summary
Tujuh negara anggota inti OPEC+ mengumumkan kenaikan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari untuk September, menyelesaikan pemulihan pemangkasan sukarela yang dimulai pada 2023.
Tujuh negara anggota inti OPEC+ pada hari Minggu mengumumkan kesepakatan untuk meningkatkan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari (bph) untuk bulan September. Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan aliansi tersebut untuk menjaga stabilitas pasar global.
Rincian Peningkatan Produksi
Kenaikan kuota ini disepakati setelah pertemuan virtual yang diadakan pada hari Minggu oleh tujuh negara anggota. Negara-negara yang berpartisipasi dalam penyesuaian sukarela ini adalah:
- Arab Saudi
- Rusia
- Irak
- Kuwait
- Kazakhstan
- Aljazair
- Oman
Menurut pernyataan resmi, peningkatan tersebut akan berlaku untuk penyesuaian sukarela yang pertama kali diumumkan pada April 2023. Kenaikan ini sekaligus menyelesaikan pemulihan bertahap dari pemangkasan pasokan sukarela sebesar 1,65 juta bph yang disepakati tahun lalu.
Kelompok tersebut juga menegaskan kembali komitmennya terhadap kepatuhan penuh pada Deklarasi Kerja Sama (Declaration of Cooperation). Para anggota berjanji untuk memberikan kompensasi penuh atas setiap volume yang diproduksi di atas tingkat yang disepakati sejak Januari 2024.
AdKonteks Pasar dan Implikasi
Langkah ini menandai babak akhir dari salah satu strategi manajemen pasokan OPEC+, yang dirancang untuk menopang harga di tengah ketidakpastian permintaan global. Bagi investor, peningkatan yang terukur ini menandakan bahwa aliansi tersebut merasa nyaman dengan kondisi pasar saat ini untuk secara bertahap mengembalikan pasokan.
Keputusan ini diambil di tengah dinamika internal yang kompleks, terutama setelah Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari OPEC pada Mei 2026. Hal ini menambah kerumitan struktural pada negosiasi kuota di masa mendatang.
Secara terpisah, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik. Presiden AS Donald Trump pada hari Sabtu mengindikasikan adanya kerangka kesepakatan di Timur Tengah yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Potensi meredanya ketegangan di salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia ini dapat mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.