Story

Analisis: Bagaimana Selat Hormuz Menjadi Prioritas Iran, Melebihi Program Nuklir

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 8, 20261 min read
Analisis: Bagaimana Selat Hormuz Menjadi Prioritas Iran, Melebihi Program Nuklir

Summary

Iran kini memandang kendali atas Selat Hormuz sebagai "senjata emas" dan prioritas yang lebih besar daripada program nuklirnya yang telah lama diperdebatkan. Pergeseran strategis ini berisiko memicu eskalasi baru dengan Amerika Serikat, mengancam kesepakatan damai sementara yang baru tercapai.

Text size
Background

Kendali atas Selat Hormuz telah menjadi "senjata emas" bagi Iran, sebuah prioritas strategis yang kini dianggap lebih penting daripada program nuklirnya. Sikap Teheran ini berisiko memicu eskalasi baru dengan Amerika Serikat, terutama setelah insiden baku tembak baru-baru ini di jalur air tersebut yang mengancam kesepakatan damai sementara yang ditandatangani bulan lalu.

Akar ketegangan terbaru ini terletak pada interpretasi kesepakatan damai yang ambigu. Sebuah nota kesepahaman menyatakan Iran akan "melakukan pengaturan dengan upaya terbaiknya untuk perjalanan kapal komersial yang aman tanpa biaya selama 60 hari saja". Iran menafsirkan ini sebagai pengakuan AS atas haknya untuk mengelola jalur air strategis tersebut, sementara AS dan negara-negara Teluk menolaknya, berpendapat bahwa Iran hanya harus memfasilitasi perjalanan yang aman, bukan memberlakukan pembatasan.

Menurut dua sumber senior Iran yang dikutip oleh Reuters, ada konsensus di kalangan elite Teheran bahwa Hormuz adalah titik pengaruh yang tidak dapat dilepaskan. Mereka meyakini bahwa penutupan selat sebelumnya, yang menyebabkan gangguan pasokan energi global terbesar dalam sejarah, telah berhasil memaksa Washington ke meja perundingan. "Mengakui tatanan baru Iran di Selat Hormuz: ini adalah satu-satunya jalan ke depan," tulis Ebrahim Azizi, seorang anggota komite keamanan nasional parlemen Iran, dalam sebuah unggahan di media sosial yang ditujukan kepada AS.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Pergeseran fokus ini sangat signifikan. Isu nuklir, yang telah menjadi sumber utama perselisihan antara Iran dan AS selama hampir 25 tahun dan menyebabkan sanksi internasional yang berat, kini dikesampingkan. Para pejabat Iran dilaporkan menolak untuk memulai kembali pembicaraan mengenai program nuklir sampai Amerika Serikat menerima manajemen penuh Iran atas Selat Hormuz, yang dilalui oleh sekitar seperlima pasokan energi global.

Back to latest news

LATEST